Sabtu, 25 Agustus 2018

Budi Seputro dan Sate Ratu, Mengantar Sate ke Lidah 63 Negara

Asap mengepul dan aroma khas daging terpanggang menguar bersamaan dengan batok kelapa yang membara. Muasalnya dari Warung Sate Ratu yang berada di sebuah Jogja Paradise Foodcourt di tepi Jalan Magelang, Yogyakarta.

Sate Merah dari Warung Sate Ratu (dok. pri).
Bangunannya seperti warung kebanyakan. Tidak terlalu besar dan sederhana. Bagian paling depan warung berupa ruangan tempat pembakaran. Memasuki bagian dalam terlihat beberapa meja dan bangku kayu memanjang mengisi ruangan. Pada setiap meja tertempel stiker hijau “Tripadvisor”. Sementara pada dinding terpasang sejumlah piagam dan sertifikat penghargaan. Pada bagian dinding lainnya juga terpampang ratusan foto dan testimoni dalam berbagai bahasa. Semuanya seakan mengisyaratkan bahwa warung sate yang terlihat biasa ini sebenarnya memiliki keistimewaan.

Seorang pria memperkenalkan namanya sebagai Budi Seputro. Ia mengenakan kaus berwarna gelap bertuliskan kata-kata yang dengan segera bisa saya ketahui sebagai caranya untuk menunjukkan salah satu keistimewaan sate di tempat itu. Setelah memberikan instruksi kepada pegawai yang sedang mengipasi bara, tak berapa lama kemudian ia kembali dengan membawa apa yang disebutnya “Sate Merah”.

Sate Merah
Dinamai Sate Merah karena saat dibakar atau dipanggang daging sate dilumuri dengan bumbu utama cabe merah yang sekilas seperti sambal ulek. Saat disajikan Sate Merah terkesan minimalis. Hanya potongan-potongan daging ayam berlumur bumbu merah dengan sedikit jejak gosong hasil pembakaran. Selebihnya tidak ada pendamping apapun kecuali sepiring nasi sebagai pilihan karbohidrat teman bersantap. Tidak ada sambal kacang maupun sambal kecap yang biasanya menjadi pelengkap wajib sate pada umumnya. Pembeli pun tidak akan pernah mendapatkan kedua macam bumbu itu karena Budi memang tidak menyediakannya. 

Budi Seputro, orang di balik kelezatan Sate Merah (dok. pri).
Saat ditanya apakah Sate Merah racikannya sesungguhnya adalah sate taichan, ia menjawab dengan memberikan tantangan. “Silakan langsung coba dan temukan bedanya”, ucap pria asal Tulungagung itu sambil menganjurkan bahwa Sate Merah sebaiknya segera disantap saat masih hangat atau setelah diangkat dari pembakaran.

Ternyata benar, rasa yang muncul cukup mengejutkan karena dominan gurih dan pedas, bukan manis seperti yang biasa terlacak pada sate dengan bumbu kecap dan kacang. Rasa gurih dan pedasnya pun menyatu hingga ke dalam daging. Potongan dagingnya sendiri lebih besar dari sate-sate yang pernah saya cicipi sebelumnya. Saat digigit dagingnya yang padat cukup empuk dan lembut.

Disantap begitu saja tanpa nasi maupun dijadikan lauk bersama nasi, sate ini sama lezatnya. Menikmati Sate Merah adalah pengalaman mencecap sate dengan cita rasa yang baru dan original.

Daging sate sebelum dipanggang diberi bumbu merah (dok. pri).
Sate dipanggang di atas bara (dok. pri).
Budi menjelaskan kunci kelezatan Sate Merah selain pada penggunaan filet daging ayam, juga ada pada bumbu rahasia yang ia racik sendiri. Meski merahasiakannya, Budi sedikit membocorkan bahwa ada sedikit pengaruh bumbu khas Lombok dan Banjarmasin dalam racikan bumbu rahasianya. Bumbu cabe merah dan bumbu rahasia itulah yang menjadi kekuatan rasa Sate Merah.

Bukan hanya Sate Merah yang ditawarkan di Warung Sate Ratu. Ada juga Lilit Basah  yang sama-sama terbuat dari daging ayam pilihan. Berbeda dengan sate lilit yang biasanya dibakar atau dipanggang, Lilit Basah buatan Budi justru dikukus dan digoreng. Cara membuatnya sederhana saja. Daging ayam pilihan yang telah dicincang ditambah dengan bumbu rahasia. Setelah itu, cincangan daging dipadatkan dan dikukus hingga dihasilkan Lilit Basah.

Budi biasa membuat Lilit Basah dalam jumlah banyak sebagai persediaan dan bisa disimpan hingga 3 minggu di dalam freezer. Setiap ada pembeli yang memesan, Lilit Basah dipotong menjadi beberapa bagian berbentuk kotak untuk dikukus kembali dan selanjutnya digoreng sebentar dengan mentega.

Lilit Basah yang disajikan bersama potongan mentimun dan bawang goreng tak kalah lezat dari Sate Merah. Pertama mencecapnya seperti menikmati nuget ayam. Tapi semakin lama terasa lebih kaya pada setiap gigitannya. Cincangan daging ayam yang kasar rasanya gurih dan tidak pedas sehingga pas dinikmati sebagai kudapan tanpa nasi. Tapi kalau ingin menyantapnya bersama nasi, Lilit Basah juga bisa menjadi lauk yang istimewa.

Lilit Basah (dok. pri).
 Kini setiap hari Budi menghabiskan sekitar 15 kg daging ayam untuk membuat Sate Merah. Sebenarnya selain Sate Merah dan Lilit Basah ia juga memiliki resep Ceker Tugel. Namun, menu yang terakhir itu tidak bisa setiap hari ia sediakan.

Lidah 63 Negara
Meskipun Sate Merah berbeda dengan sate pada umumnya, cita rasanya ternyata diterima dan disukai oleh banyak orang. Tidak hanya oleh lidah lokal, tapi juga oleh para wisatawan. Hingga Agustus 2018 Sate Merah telah menyentuh lidah banyak wisatawan dari 63 negara yang berbeda. Sebagian kunjungan wisatawan asing itu bisa dilihat dari sejumlah foto dan testimoni yang dipajang pada dinding warung.

Sate Merah yang menggoda (dok. pri).
Walau terlihat polos dan minimalis, tapi rasanya lezat (dok. pri).
Menurut Budi sekitar 30% pengunjung warung satenya memang wisatawan asing. Bahkan, ada kesan Sate Merah lebih dikenal oleh wisatawan dibanding oleh masyarakat Yogyakarta sendiri. Cita rasa pedas yang selama ini dianggap kurang akrab dengan selera lidah orang asing tidak terbukti pada Sate Merah. “Sejauh ini tidak banyak yang komplain. Rata-rata wisatawan asing hanya bilang pedas, tapi pedas yang masih bisa diterima”, kata Budi.

Banyak di antara wisatawan yang mengetahui Warung Sate Ratu dari sesama wisatawan maupun pemandu perjalanan wisata yang sebelumnya telah merasakan kelezatan Sate Merah dan Lilit Basah. Mereka yang puas juga memberikan ulasan dan menyampaikan pengalamannya. Itulah yang menjadi salah satu sebab warung ini mendapatkan Certificate of Excellence dari Tripadvisor pada 2017 dan 2018. 

Testomoni dan foto kunjungan wisatawan dari berbagai negara terpasang di dinding Warung Sate Ratu (dok. pri).
Sertificate of Excellence dari Tripadvisor (dok. pri).
Selain sertifikat dari Trip advisor, sejumlah penghargaan dan pengakuan lain juga didapatkan oleh Warung Sate Ratu pada 2018. Di antaranya terpilih sebagai salah satu dari 95 Food Startup Indonesia oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan menjadi finalis Penerus Warisan Kuliner Kecap Bango tingkat Nasional.

Tawaran atau ajakan dari pihak ketiga untuk bekerja sama juga banyak berdatangan meski Budi berusaha selektif terhadap setiap tawaran ada. Namun, ia dengan senang hati memberikan pelatihan kepada siapapun yang ingin belajar mengolah sate dengan menggunakan bumbu merah yang ia produksi. Mereka yang sudah mahir mengolah bisa membuka usaha kuliner sendiri dengan bendera dan nama masing-masing. Ia menilai cara itu lebih mudah dibandingkan perjanjian franchise.
 
Warung Sate Ratu di Jogja Paradise Foodcourt (dok. pri).
Meski memiliki dua orang pegawai, Budi bersama sang istri Maria Watampone tetap turun  tangan langsung melayani pembeli. Di warung yang buka setiap hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB, keduanya dengan ramah menyambut setiap pembeli yang datang dan juga mengantarkan pesanan ke meja pembeli. Budi pun senang berinteraksi dengan para pembeli untuk mengetahui respon dan masukan mereka. Budi percaya diri untuk terus menyajikan Sate Merah dan Lilit Basah. Ia pun belum berpikir untuk menghadirkan menu lain di warungnya. Spesialisasi dan kekhasan sangat penting baginya. Kalaupun ingin menambahkan pilihan menu baru, ia baru akan melakukannya sekitar dua tahun lagi. 

Sate Ratu (dok. pri).
Soal persaingan bisnis kuliner yang semakin ramai di Yogyakarta ia pun menganggapnya sebagai hal yang biasa. “Kalau memang saya punya menu dan kualitas yang baik, kenapa harus khawatir?”, ucapnya penuh keyakinan.

Jumat, 03 Agustus 2018

Membaca Kitab Ivan Lanin

Mana yang tepat, blogger atau bloger? Akhir-akhir ini penulisan bloger lebih banyak dipilih dibanding blogger. Tapi ada padanan yang lebih tepat dan pas  untuk kedua istilah tersebut adalah narablog.
"Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?" (dok. pri).
Dari mana pula asal kata aktivitas? Selama ini khalayak menganggap bahwa aktivitas adalah turunan dari kata aktif yang diserap dari kata active (Inggris) dan mendapatkan akhiran -itas. Di sekolah sering diajarkan bahwa penambahan akhiran -itas pada kata aktif menyebabkan huruf f berganti menjadi v. Ternyata hal tersebut keliru karena kata aktivitas diserap langsung dari bahasa Belanda, yaitu activiteit.

Masalah-masalah dan bentuk salah kaprah seperti itulah yang dijelaskan dalam buku “Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?” karya Ivan Lanin. Buku ini menggedor kepedulian kita terhadap bahasa Indonesia sekaligus memperbaiki pemahaman yang selama ini terlanjur diyakini.


Ivan Lanin adalah seorang wikipediawan yang giat mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar melalui media sosial. Peraih penghargaan sebagai Peneroka Bahasa Indonesia Dari dari Badan Bahasa ini juga menulis blog. Isinya tidak jauh berbeda dengan kampanyenya di media sosial yang mengajak khalayak mencintai bahasa Indonesia sekaligus mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktik berbahasa Indonesia.

Cuitan-cuitan Ivan Lanin di twitter menarik perhatian khalayak, terutama generasi muda. Ia menjadi tempat bertanya khalayak seputar permasalahan bahasa. Informasi dan penjelasan yang diberikannya mampu memperkaya pengetahuan bahasa. Caranya berinteraksi yang santai, akrab, dan kadang-kadang menggelitik membuat ajarannya disukai. Ajaran Ivan Lanin tidak menggurui, tapi mencerahkan.

Xenoglosofilia
Menurut Ivan permasalahan bahasa seperti ketidaktepatan dalam penggunaaan kata dan istilah Indonesia disebabkan karena khalayak kurang memahami makna kata. Khalayak pengguna bahasa juga malas mencari padanan kata untuk istilah-istilah asing yang digunakan sehingga timbul salah kaprah.

Ada pula kecenderungan khalayak untuk menggantikan istilah dalam bahasa Indonesia dengan istilah dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris karena dianggap lebih keren. Khalayak semakin terbiasa dan senang menggunakan kata-kata asing secara tidak wajar. Gejala ini disebut Xenoglosofilia. 
Kitab ajaran Ivan Lanin (dok. pri).
Selain menimbulkan salah kaprah, Xenoglosofilia juga membuat bahasa Indonesia kurang berkembang. Tidak sedikit padanan kata atau istilah bahasa Indonesia yang sebenarnya sudah ada sejak lama dan semestinya digunakan justru kalah populer dibanding serapannya dari bahasa asing. Contohnya mangkus (efektif), sangkil (esifien), gerip (stylus) dan sebagainya. 

Menelusuri Makna
Menggunakan padanan kata yang tepat sangat penting untuk memajukan dan menambah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Jika ada istilah-istilah asing yang baru atau mulai sering digunakan dalam praktik berbahasa, upaya pencarian padanan katanya dalam bahasa Indonesia perlu segera dilakukan sebelum istilah asing tersebut populer. Semakin populer istilah asing akan semakin sulit khalayak menerima padanannya dalam bahasa Indonesia.

Memahami makna (dok. pri).

Asal kata (dok. pri).
Sampul belakang (dok. pri).
Untuk mencari padanan kata Ivan menekankan pentingnya menelusuri konsep makna yang dikandung oleh kata atau gabungan kata. Pemahaman terhadap makna adalah syarat untuk membuat istilah. Padanan kata bisa digali dari bahasa daerah serta bahasa kuno seperti Sansekerta dan Kawi. Jika dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa kuno tidak berhasil mendapatkan padanannya, penyerapan dari bahasa asing bisa dilakukan. Namun, ejaan dan lafalnya perlu disesuaikan agar lebih mudah diucapkan dan ditulis dalam bahasa Indonesia.

Selain narablog yang sudah disebutkan di awal, buku ini memperkenalkan sejumlah padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk beberapa istilah asing yang populer.  Beberapa padanan kata sudah ada sejak lama dan buku ini bermaksud membangkitkan lagi penggunaanya. Misalnya adalah lahan yasan sebagai padanan untuk real estate. Istilah lahan yasan yang terdengar indah sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi kebutuhan pemasaran di bidang properti lebih menyukai penggunaan istilah asingnya. Istilah lahan yasan pun kalah populer seperti halnya adimarga kalah populer dibanding boulevard dan tengaran kalah populer dibanding landmark.


Contoh lainnya adalah hospitality yang sering diterjemahkan menjadi perhotelan atau perhotelan dan restoran. Tapi menurut Ivan Lanin terjemahan tersebut kurang menggambarkan makna yang dikandung oleh hospitality. Penyerapan secara langsung menjadi hospitalitas juga kurang tepat. Padanan yang tepat sesuai makna hospitality adalah penjamuan.

Dengan menelusuri konsep makna Ivan Lanin mencari padanan-padanan kata untuk beberapa istilah asing lainnya. Salah satunya adalah crowdsourcing yang bermakna pemberian tugas kepada sekelompok besar orang, terutama melalui internet, biasanya tanpa kompensasi finansial. Istilah crowd bisa dipadanankan dengan kerumunan atau gerombolan, tapi Ivan lebih memilih khalayak karena terdengar lebih enak dan tidak berkonotasi negatif seperti kerumunan dan gerombolan. Sedangkan sourcing bisa dipadankan dengan sumber atau daya. Ivan lebih memilih daya. Dengan demikian padanan yang tepat untuk crowdsourcing adalah daya khalayak.

Bidang teknologi informasi termasuk paling banyak menggunakan istilah asing. Dua di antaranya yang sangat populer adalah online dan offline. Banyak yang memilih tidak menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Namun, akhir-akhir ini banyak yang menggunakan istilah daring (dalam jaringan) sebagai padanan untuk online dan luring (luar jaringan) untuk offline. Meskipun dua istilah tersebut cukup menarik, Ivan menganjurkan untuk menggunakan istilah terhubung (online) dan terputus (offline) seperti yang ditunjukkan dalam Panduan Pembakuan Istilah Inpres Nomor 2 Tahun 2001.

Gerip=Stylus (dok. pri).
Buku bagus (dok. pri).
Pencarian padanan kata juga dilakukan untuk singkatan-singkatan bahasa asing yang populer. Salah satunya adalah FAQ yang merupakan singkatan dari Frequently Asked Questions. Ivan mengusulkan Tanja yang merupakan akronim dari tanya jawab  sebagai padanan untuk FAQ. Pembentukan akronim tanja disesuikan dengan FAQ yang merupakan bentuk singkatan.

Selain itu ada metode perluasan makna untuk membentuk padanan kata dalam bahasa Indonesia. Contoh hasilnya adalah canggih yang diperluas maknanya dari “cerewet” menjadi padanan untuk sophisticated yang bermakna rumit. Demikian pula dengan istilah tagar yang sebelumnya bermakna guruh atau guntur, diperluas maknanya sebagai padanan untuk hashtag.

Agar terhindar dari salah kaprah, penting untuk mengetahui asal kata. Salah satu contohnya adalah investasi yang ternyata bukan diserap dari bahasa Inggris (invesment) atau dari investacy meski akhira -cy pada bahasa Inggris sering berubah menjadi -si dalam bahasa Indonesia. Penelusuran Ivan Lanin melalui sumber ahli bahasa menemukan bahwa kata investasi berasal dari kata investatie dalam bahasa Belanda. Akhiran -atie kemudian menjadi -asi dalam investasi.

Padat Berisi
Semua tulisan di dalam buku ini disampaikan dengan aliran kalimat yang sederhana dan mudah dicerna sehingga membacanya terasa tidak membosankan. Penggunaan warna cerah untuk sampul dan beberapa halaman buku menyiratkan pendekatan Ivan Lanin untuk mengajak khalayak menggali bahasa Indonesia dengan cara yang lebih luwes dan akrab.


Membaca lebih dari 100 tulisan pendek di dalam buku ini seperti menjalani sebuah kelas bahasa Indonesia yang padat berisi tapi tidak memberatkan. Masalah seputar padanan kata, asal kata, struktur paralel, kaidah KPST, penggunaan huruf kapital, cara menulis rupiah, dan sebagainya disampaikan secara jelas tanpa menghabiskan terlalu banyak baris kalimat.

Meski ringkas, tapi tulisan-tulisan dalam buku ini mampu memberikan pemahaman yang mendalam tentang bahasa Indonesia sehingga kesalahan-kesalahan dalam berbahasa diharapkan dapat dikikis. Di sisi lain Ivan Lanin mencoba bersikap kritis terhadap pengguna bahasa dan perkembangan bahasa indonesia. Misalnya soal kata skedul dan mengensel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Padahal, bahasa Indonesia sudah memiliki kata jadwal dan membatalkan. Dalam hal ini Ivan Lanin menunjukkan bahwa KBBI pun ternyata telah tercemar oleh gejala “nginggris”.
Ivan Lanin (dok. pri).
Hadirnya buku “Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?” patut disyukuri. Dari judulnya saja buku ini sudah menjadi tawaran untuk merenungkan secara jujur kepedulian khalayak terhadap bahasa Indonesia. Praktik berbahasa dengan menggunakan banyak istilah asing bukanlah sesuatu yang membanggakan. Lewat buku ini Ivan Lanin menunjukkan keistimewan bahasa Indonesia. Jika ada kata atau istilah dalam bahasa Indonesia yang terkesan aneh, itu hanya masalah kebiasaan. Asalkan digunakan terus secara konsisten khalayak akan terbiasa dan menjadi tidak aneh lagi. Semakin khalayak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, maka bahasa Indonesia pun akan semakin mantap.

Sabtu, 28 Juli 2018

Poto Batu, "Vitamin Sea" di Pesisir Sumbawa Barat


“Lihat ke kiri!”. Suara Pak Arie membangunkan kembali kesadaran kami yang kebanyakan sudah hampir tertidur di dalam bis. Siang itu kami sedang dalam perjalanan dari Jerewh ke Kertasari, keduanya di Kabupaten Sumbawa Barat. Ucapan Pak Arie pun dituruti oleh beberapa di antara kami yang segera mengarahkan pandangan menembus kaca jendela bis. Entah siapa yang memulai meminta bis untuk berhenti, tapi sekejap kemudian kami semua sudah turun dan mendapati diri berada di sebuah pantai yang indah. Poto Batu namanya.
Pantai Poto Batu dengan landmark berupa batu karang berukuran besar (dok. pri).

Pantai Poto Batu berada tak jauh dari Labuhan Lalar di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan dari Jereweh menuju Poto Batu kami tempuh melalui jalanan beraspal yang tidak terlalu ramai. Agak mengherankan karena jalan tersebut adalah akses penghubung antara ibu kota Sumbawa Barat, Taliwang, dengan sejumlah daerah di sekitarnya. 

Mendekati Poto Batu beberapa ruas jalan menyempit dan aspalnya kurang rata. Oleh karenanya kendaraan perlu berjalan lebih pelan. Apalagi, jika berpapasan dengan kendaraan besar seperti bis atau truk. 
Pantai Poto Batu (dok. pri).

Batu karang berserakan di Pantai Poto Batu (dok. pri).
Perkampungan nelayan dapat dijumpai di sepanjang perjalanan menuju Pantai Poto Batu. Rumah-rumah sederhana dan kapal-kapal nelayan menggerombol di sekitar muara sungai yang mengarah ke laut. Melihat perkampungan nelayan di pesisir Sumbawa Barat merupakan pengalaman tersendiri.

Selain perkampungan nelayan, panorama khas pesisir lainnya juga bisa dinikmati. Di kanan-kiri jalan dijumpai kebun dan tanaman bakau, berikut sejumlah orang yang sedang beraktivitas. Pohon-pohon kelapa berbaris memagari landskap pesisir.
Batu karang memagari Pantai Poto Baru dari dengan lautan (dok. pri).
Untuk benar-benar menjejak Pantai Poto Batu kami harus melangkah menuruni jalan tanah di antara kebun kelapa. Hal ini karena permukaan jalan raya terdekat dengan Poto Batu lokasinya lebih tinggi empat hingga lima meter dibandingkan permukaan pantai. 

Poto Batu sungguh memesona. Garis pantainya panjang dan bersih. Siang itu hampir tidak ada pengunjung lain selain rombongan kami. Sejauh mata memandang ke arah laut yang terlihat adalah bentang samudera luas dengan payung langit biru begitu cerah. Ke arah sebaliknya hijau pepohonan menampilkan kontras yang menyejukkan.

Meski pasir pantainya bukan pasir putih, tapi butirannya lembut dan tidak lengket sehingga kaki terasa nyaman melangkah. Semakin nyaman karena tubuh dibelai oleh hembusan angin yang sejuk dan membuat dedaunan kelapa ikut melambai-lambai. 

Batu karang di Poto Batu (dok. pri).
Berada di tepi Pantai Poto Batu seperti menyaksikan tarian gelombang air laut yang bergerak ritmis dan berulang menghampiri pasir pantai. Setiap kali mencapai tepi, gelombang itu membentuk gulungan-gulungan kecil yang menghamburkan pasir. Sesaat buih tertinggal, lalu lenyap, tapi kemudian gelombang kembali menyapa. 

Air laut di sekitar Pantai Poto Batu juga bersih dan bening. Kami bisa mendekat sampai beberapa meter ke arah perairan. Tapi sebaiknya berhati-hati dan jangan terlalu jauh dari pantai karena Poto Batu memiliki banyak batu karang yang tersebar di beberapa titik di dekat pantai. Batu-batu itu membuat air laut yang bergerak ke arah pantai terhempas lebih kencang. Menurut informasi pada saat-saat tertentu banyak orang yang datang ke Poto Batu untuk memancing ikan di atas baru-batu karang tersebut.

Meski demikian keberadaan batu-batu karang justru menjadi daya pikat utama di Pantai Poto Batu. Selain ukurannya yang beragam, bentuknya juga bervariasi. Ada yang memanjang, bulat, dan runcing. Satu batu terlihat sangat unik karena berukuran besar dan berbentuk seperti segitiga dengan ujung yang tumpul. Pada bagian tengah batu terdapat lubang mirip mulut gua. Konon batu berlubang inilah yang menjadi asal-muasal penamaan Poto Batu. 

Dari kejauhan batu berlubang itu memang terlihat sebagai landmark Poto Batu. Di bagian puncaknya tertancap sebuah tiang bambu dengan bendera merah putih. Batu itu juga ditumbuhi sedikit rumput dan sebuah pohon kecil. Sayangnya dijumpai coretan tangan-tangan usil yang tidak bertanggung jawab di atas batu.
Poto Batu (dok. pri).
Sengatan matahari siang itu seolah tak dirasakan lagi. Kantuk dan lelah seketika sirna. Kami enggan buru-buru kembali ke bus meski sebenarnya tidak tertulis Poto Batu pada daftar agenda kami hari itu. Untuk sesaat kami tidak peduli. Apa boleh buat, pijar pasir dan air laut, langit biru, hembusan angin yang segar, serta pemandangan di sekeliling Pantai Poto Batu telah memikat kami. Keterlaluan jika “vitamin sea” seperti ini dilewatkan begitu saja.

Minggu, 10 Juni 2018

Bersama TCASH Mudah Mengupayakan Kebaikan dan Kebahagiaan


Hari Kamis, 25 Mei 2018, saya terbangun pukul 02.20 WIB. Sudah menjadi kebiasaan selama bulan Ramadan saya bangun sebelum pukul 03.00 WIB agar tidak terlambat sahur.
Berdonasi lewat TCASH Wallet (dok. pri).
Namun, pagi itu sedikit berbeda. Keinginan yang pertama kali melintas saat bangun pagi itu bukan makan sahur, tetapi mengikuti penjualan cepat (flash sale) smartphone yang diadakan oleh sebuah situs e-dagang. Malam sebelumnya saya sudah berjanji kepada kakak perempuan saya untuk membelikan smartphone baru. Penjualan cepat dengan potongan harga yang akan berlangsung pukul 00.00-03.00 WIB segera menjadi incaran. Kebetulan merek smartphone yang ditawarkan sesuai dengan keinginan kakak.

Ketika bersiap mengikuti penjualan cepat, paket internet saya ternyata telah berakhir pada 24 Mei pukul 23.59 WIB. Itu saya sadari saat membuka sms dari operator yang masuk ke nomor saya 082135XXXXXX. Sejenak kebingungan melanda. Tanpa paket internet bagaimana bisa saya membeli smartphone baru untuk kakak melalui flash sale? Sempat terpikir untuk melewatkannya dan memilih membeli smartphone di toko meski dengan harga reguler yang lebih mahal.


Smartphone untuk Kakak Berawal dari TCASH
Selama ada niat baik, ternyata jalan untuk #Jadibaik pun dimudahkan. Saya segera ingat masih memiliki saldo TCASH dan cashback yang bisa digunakan untuk membeli paket data internet. Berhubung aplikasi TCASH Wallet tidak bisa diakses tanpa paket internet aktif, maka saya mengakses TCASH melalui USSD dengan menekan *800#. Pada menu yang ditampilkan saya memilih Paket Data Rp15.000 dengan kuota 2GB yang masa aktifnya 3 hari. 


Mudahnya mengakses TCASH lewat •800#. Pada 25 Mei membeli paket internet dengan TCASH agar bisa mengikuti flashsale secara online dan berhasil membelikan smartphone untuk kakak (dok. pri).
Cara pakai TCASH melalui USSD sangat mudah. Membeli paket internet dengan cara tersebut prosesnya sama cepatnya dengan melalui aplikasi TCASH Wallet. Hanya dalam hitungan detik paket internet telah aktif. Segera saya mengikuti flash sale secara online di tengah waktu penawaran yang hampir usai. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan satu unit smartphone baru yang diinginkan kakak. Makan sahur pun terasa lebih nikmat karena satu janji kebaikan telah ditunaikan.

Memilih TCASH
Pengalaman tersebut bagi saya merupakan berkah atas kemudahan yang dihadirkan TCASH. Jika tidak menggunakan TCASH mungkin saya akan kesulitan mengisi ulang paket internet pagi itu. Tapi berkat TCASH saya bisa membeli paket internet dengan cepat dan mudah sehingga bisa membelikan smartphone untuk kakak.

Pengalaman di atas juga sangat berkesan mengingat saya baru sekitar 4 bulan #pakeTCASH. Meskipun sebenarnya sudah lama saya mengetahui adanya TCASH. Dari cerita beberapa teman yang telah lebih dulu menggunakan TCASH dan juga dari berbagai media edukasi/sosialisasi, saya penasaran dengan TCASH. Tapi waktu itu masih ada keraguan dan pertanyaan yang muncul. Sejauh mana TCASH bisa memberikan kemudahan dan menunjang kebutuhan saya?
Promo pembayaran dan cashback saldo bonus yang diberikan TCASH menghadirkan kebaikan karena bisa berhemat (dok. pri).
Aplikasi TCASH Wallet di smartphone mempermudah akses berbagai kebutuhan transaksi pembayaran dan pembelian (dok. pri).


Akibatnya keinginan untuk menggunakan TCASH timbul tenggelam. Hingga pada 19 Maret 2018 saya mendatangi Grapari Telkomsel Yogyakarta untuk mengganti SIM card yang rusak. Setelah mengurus pergantian SIM Card, saya sempatkan untuk menanyakan tentang TCASH kepada petugas customer service bernama Yana. Berbekal penjelasan dari Yana, ditambah informasi yang saya baca dari digitalpayment.telkomsel.com, sehari kemudian saya memutuskan untuk memilih #pakeTCASH. Proses aktivasinya cukup mudah dan cepat, serta bisa dilakukan secara mandiri. Untuk melengkapinya saya pun memasang aplikasi TCASH Wallet di smartphone.

Mudahnya #JadiBaik dengan #pakeTCASH
Sejak saat itu saya mendapati bahwa TCASH dan aplikasi TCASH Wallet mampu mendukung kebutuhan saya dengan menghadirkan cara yang mudah dan efektif. Ada banyak manfaat dan kemudahan yang saya dapatkan dengan TCASH. Di antaranya bisa mengisi ulang pulsa serta paket internet dengan pilihan nominal sesuai kebutuhan. Dengan fitur dan cara beli TCASH yang mudah saya bisa memenuhi kebutuhan pulsa maupun internet secara leluasa.



Membeli pulsa untuk nomor sendiri dan nomor orang tua bisa dilakukan lewat TCASH secara mudah dan tanpa biaya admin (dok. pri).
Dengan TCASH bisa membelikan/mengirim paket internet untuk nomor kakak (dok. pri).

Dengan TCASH saya juga bisa mengupayakan kebaikan dan kebahagiaan untuk orang lain. Seperti misalnya membelikan smartphone untuk kakak yang ceritanya sudah saya sampaikan di awal.

Selain itu, TCASH membuat saya semakin mudah membelikan pulsa untuk orang tua di rumah. Selama ini saya terbiasa mengirim pulsa untuk nomor Ibu dan Bapak di kampung halaman. Meski kedua orang tua masih sanggup mengisi pulsa sendiri, tapi setiap bulan saya juga mengirim pulsa untuk mereka. Harapannya semakin banyak pulsa yang dimiliki oleh Ibu dan Bapak, maka kami yang terpisah jarak bisa tetap lancar berkomunikasi. Apalagi, Ibu yang sering menelepon menanyakan kabar saya di rantau. Jika pulsanya sudah mulai berkurang, kadang Ibu meminta untuk diisikan kembali.

Dulu sebelum menggunakan TCASH saya membelikan pulsa untuk orang tua melalui layanan e-banking dan fitur transfer pulsa yang dipotong dari pulsa yang saya miliki. Kini, dengan TCASH urusan transfer pulsa menjadi sangat mudah. Adanya fitur “Beli Untuk Nomor Lain” di aplikasi TCASH Wallet membuat saya bisa mengirim pulsa untuk orang tua hanya dengan beberapa sentuhan saja.

Selama bulan Ramadan ini beberapa kali saya membeli pulsa untuk orang tua melalui aplikasi TCASH Wallet. Saya juga membelikan paket internet untuk kakak. Mungkin nominal pulsa dan paket data yang saya kirimkan untuk keluarga di kampung halaman tidak seberapa. Tapi setidaknya dengan cara tersebut kami bisa terus terhubung meski terpisah jarak yang jauh. Menjelang dan saat berbuka kami sering melakukan panggilan video melalui aplikasi chatting atau berkirim foto makanan berbuka masing-masing. Demikian pula saat sahur.

Kerinduan akan kebersamaan serta kehangatan keluarga bisa sedikit terobati dengan rutin berkomunikasi. Jika pulsa dan paket internet hampir habis, saya tak terlalu khawatir  lagi karena ada saldo TCASH yang kapanpun bisa digunakan untuk menjalin kebaikan  dan kebahagiaan bersama keluarga.

Tiada Lagi Alasan Tidak Dapat Berbagi
Ternyata TCASH juga membukakan jalan kebaikan lebih dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Pada Sabtu, 2 Juni 2018, bermula saat melihat linimasa instagram saya membaca informasi berupa ajakan memberikan donasi atau sedekah yang ditayangkan oleh akun @tcash_id.

Karena penasaran saya pun mengikuti petunjuk yang ada. Dimulai dengan memindai QR code yang tersedia, kemudian muncul halaman Kado Lebaran Yatim di layar smartphone. Saya lalu mengisi nominal sedekah. Kebetulan masih ada cukup saldo TCASH. Setelah melakukan konfirmasi, notifikasi langsung dikirimkan melalui sms serta ditampilkan di halaman pembayaran TCASH tanda sedekat telah diterima.
Dengan TCASH saya bisa berdonasi mengupayakan kebaikan dan kebahagiaan untuk anak yatim menjelang lebaran (dok. pri).

Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya berdonasi melalui aplikasi dompet digital atau uang elektronik. Pengalaman ini sangat berkesan karena ternyata dengan #pakeTCASH saya bisa berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Bagi saya TCASH telah memberikan nilai tambah pada sebuah dompet digital yang manfaatnya tidak lagi hanya ditujukan untuk kebutuhan pemiliknya, tapi juga sebagai media dan saluran untuk berbagi rezeki pada sesama. Saya senang sekaligus bersyukur karena telah turut serta mengupayakan kebahagiaan bagi anak-anak yatim melalui TCASH. Semoga pemberian yang tidak seberapa itu bisa menghadirkan kebaikan.

***
Beberapa pengalaman di atas membuat saya semakin mantap untuk terus menggunakan TCASH. Apalagi, selain cara pakai TCASH yang mudah, juga memungkinkan  untuk lebih berhemat. Hal ini karena pembelian pulsa maupun paket data melalui TCASH tidak dikenakan biaya tambahan. Donasi atau sedekah yang dibayarkan melalui TCASH juga bebas biaya administrasi. Selain itu, banyak transaksi pembelian dan pembayaran di merchant TCASH yang disertai cashback sehingga biaya yang dikeluarkan lebih murah.

Dengan TCASH semua bisa jadi baik dengan cara yang mudah (dok. pri).
Lebih dari itu semua, banyak kebaikan yang bisa diupayakan melalui TCASH. Bukan hanya untuk diri sendiri, kebaikan uang elektronik dan dompet digital TCASH juga bisa menjadi sarana untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita.  Dengan #pakeTCASH semua bisa #JadiBaik dengan cara yang mudah.

Sabtu, 05 Mei 2018

Mencecap "Sang Pisang" Dari Kaesang

Menjelang sore, tiba-tiba ingin menikmati cemilan. Teringat pernah makan naget pisang. Jadilah saya memutuskan membuka aplikasi Gojek di smartphone. Pada fitur GoFood saya mencari Sang Pisang milik anak Jokowi, Kaesang Pangarep.

Naget pisang "Sang Pisang" (dok. pri).
Di aplikasi GoFood satu kotak Sang Pisang berisi 10 naget pisang dihargai Rp25.000, belum termasuk topping tambahan. Sementara jasa antarnya Rp13.000. Harga total yang lumayan mahal itu membuat saya beralih untuk mencoba GrabFood. Di aplikasi GrabFood sekotak Sang Pisang ternyata dihargai lebih murah, yaitu Rp22.000 dan biaya pengantarannya hanya Rp3000. Selisih yang cukup mencolok dengan GoFood.

Saya pun akhirnya memesan melalui GrabFood dan segera diterima oleh seorang pengemudi Grab dengan perkiraan waktu pengiriman 40 menit. Lumayan lama, tapi tak mengapa.

Kemasan "Sang Pisang" (dok. pri).
Katanya #BUKANKUEARTIS (dok. pri).

Sang Pisang ternyata tiba 20 menit lebih cepat dari perkiraan. Satu kotak kertas berwarna hitam berukuran 20x10x4 cm dengan permukaan mengkilat saya terima. Bersama kemasannya diberikan sebuah garpu plastik berukuran kecil dan beberapa lembar tisu bersih.

Pada bagian atas tutupnya ada sebuah tulisan menarik: “Naget Pisang Kesayangan Sang Pisang By Kaesang”. Lalu di balik tutup kemasannya, Kaesang menitipkan semacam peringatan: #BUKANKUEARTIS. Barangkali ia hendak mengatakan bahwa dirinya bukan artis. Meski predikat anak presiden sebenarnya telah membuat keterkenalannya melampaui artis. Dan oleh karena itu pula, Kaesang pun ingin berkata bahwa Sang Pisang bukan lahir dari semangat aji mumpung menjual kue-kue yang serba homogen yang sebenarnya tidak ada istimewanya, tapi dengan modal nama beken diri dan kota besar, lalu dibuat promosi seolah-olah kue artis adalah jajanan yang mahanikmat dan maha istimewa.
Masih banyak minyak yang tertinggal di naget (dok. pri).
Saat tutupnya dibuka aroma wangi  menguar dari naget pisang berlumur saus strawberry yang saya pilih sebagai tembahan saus. Wanginya menurut saya cukup menggoda. Apalagi, lumeran saus pink yang menyelimuti permukaan naget terlihat sangat menarik. Tampilan luar Sang Pisang yang memikat tersebut mungkin bisa menjadi pemakluman atas harganya yang lebih mahal dari naget pisang lainnya.

Sementara pada sisi yang tidak berlumur saus strawberry, terlihat warna luar naget yang kecoklatan dengan tepung krispi yang kering. Naget yang saya terima sepertinya baru digoreng karena selain masih hangat, jejak minyaknya juga masih banyak tertinggal di permukaan. Ini yang saya sayangkan. Naget pisang akan lebih baik jika disajikan setelah ditiriskan minyaknya, baru kemudian dilumuri toping atau saus agar rasa dan tampilannya sama baiknya.
 
Bagian dalam naget Sang Pisang berwarna kuning keemasan, teksturnya lembut, padat, dan sedikit lengket seperti halnya daging pisang yang dihaluskan.  Bahkan, biji pisang pun masih dapat ditemukan di dalam naget Sang Pisang.

Rasanya lumayan manis. Sayangnya, saya salah memilih saus toping. Indera pengecap saya mendapati saus strawberrynya terlalu manis dan “medok” sehingga membuat rasa naget secara keseluruhan menjadi kurang nikmat. Penggemar berat makanan manis mungkin menyukai totalitas rasa seperti ini. Tapi bagi pemilik lidah lainnya, sentuhan dari saus strawberry ini terasa berlebihan alias lebay.

Naget "Sang Pisang" (dok. pri).
Bagi saya saus strawberry yang ditambahkan, apalagi jumlahnya banyak, kurang cocok untuk naget Sang Pisang yang rasa aslinya sudah lumayan manis. Bahkan, tanpa dilumuri saus pun naget Sang Pisang sebenarnya sudah bisa menjadi teman minum teh atau kopi yang nikmat. Apalagi jika minyak sisa penggorengannya telah lebih dulu ditiriskan agak lama sehingga rasa manis, lembut, dan sensasi krispinya dapat dinikmati secara pas.

Sang Pisang tampaknya perlu melakukan eksperimen ulang atau menguji lagi penambahan saus dan topingnya secara tepat dengan lebih memperhatikan kesesuaian rasa, selain mementingkan tampilan luar. Tidak semua saus dan toping cocok ditambahkan dalam jumlah banyak. 

Manisnya berlebihan (dok. pri).

Saus strawberry yang “medok” ini  membuat rasa Sang Pisang menjadi berlebihan dan kurang bisa dinikmati. Ada baiknya Sang Pisang mempertimbangkan modifikasi penyajian dan penjualan pisang nagetnya. Misalnya, memberikan pilihan penambahan saus secara terpisah sehingga Sang Pisang bisa dinikmati  lebih fleksibel dengan mencocolkannya dalam saus sesuai selera.

Cerita Populer

BERANDA