Minggu, 10 Juni 2018

Bersama TCASH Mudah Mengupayakan Kebaikan dan Kebahagiaan


Hari Kamis, 25 Mei 2018, saya terbangun pukul 02.20 WIB. Sudah menjadi kebiasaan selama bulan Ramadan saya bangun sebelum pukul 03.00 WIB agar tidak terlambat sahur.
Berdonasi lewat TCASH Wallet (dok. pri).
Namun, pagi itu sedikit berbeda. Keinginan yang pertama kali melintas saat bangun pagi itu bukan makan sahur, tetapi mengikuti penjualan cepat (flash sale) smartphone yang diadakan oleh sebuah situs e-dagang. Malam sebelumnya saya sudah berjanji kepada kakak perempuan saya untuk membelikan smartphone baru. Penjualan cepat dengan potongan harga yang akan berlangsung pukul 00.00-03.00 WIB segera menjadi incaran. Kebetulan merek smartphone yang ditawarkan sesuai dengan keinginan kakak.

Ketika bersiap mengikuti penjualan cepat, paket internet saya ternyata telah berakhir pada 24 Mei pukul 23.59 WIB. Itu saya sadari saat membuka sms dari operator yang masuk ke nomor saya 082135XXXXXX. Sejenak kebingungan melanda. Tanpa paket internet bagaimana bisa saya membeli smartphone baru untuk kakak melalui flash sale? Sempat terpikir untuk melewatkannya dan memilih membeli smartphone di toko meski dengan harga reguler yang lebih mahal.


Smartphone untuk Kakak Berawal dari TCASH
Selama ada niat baik, ternyata jalan untuk #Jadibaik pun dimudahkan. Saya segera ingat masih memiliki saldo TCASH dan cashback yang bisa digunakan untuk membeli paket data internet. Berhubung aplikasi TCASH Wallet tidak bisa diakses tanpa paket internet aktif, maka saya mengakses TCASH melalui USSD dengan menekan *800#. Pada menu yang ditampilkan saya memilih Paket Data Rp15.000 dengan kuota 2GB yang masa aktifnya 3 hari. 


Mudahnya mengakses TCASH lewat •800#. Pada 25 Mei membeli paket internet dengan TCASH agar bisa mengikuti flashsale secara online dan berhasil membelikan smartphone untuk kakak (dok. pri).
Cara pakai TCASH melalui USSD sangat mudah. Membeli paket internet dengan cara tersebut prosesnya sama cepatnya dengan melalui aplikasi TCASH Wallet. Hanya dalam hitungan detik paket internet telah aktif. Segera saya mengikuti flash sale secara online di tengah waktu penawaran yang hampir usai. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mendapatkan satu unit smartphone baru yang diinginkan kakak. Makan sahur pun terasa lebih nikmat karena satu janji kebaikan telah ditunaikan.

Memilih TCASH
Pengalaman tersebut bagi saya merupakan berkah atas kemudahan yang dihadirkan TCASH. Jika tidak menggunakan TCASH mungkin saya akan kesulitan mengisi ulang paket internet pagi itu. Tapi berkat TCASH saya bisa membeli paket internet dengan cepat dan mudah sehingga bisa membelikan smartphone untuk kakak.

Pengalaman di atas juga sangat berkesan mengingat saya baru sekitar 4 bulan #pakeTCASH. Meskipun sebenarnya sudah lama saya mengetahui adanya TCASH. Dari cerita beberapa teman yang telah lebih dulu menggunakan TCASH dan juga dari berbagai media edukasi/sosialisasi, saya penasaran dengan TCASH. Tapi waktu itu masih ada keraguan dan pertanyaan yang muncul. Sejauh mana TCASH bisa memberikan kemudahan dan menunjang kebutuhan saya?
Promo pembayaran dan cashback saldo bonus yang diberikan TCASH menghadirkan kebaikan karena bisa berhemat (dok. pri).
Aplikasi TCASH Wallet di smartphone mempermudah akses berbagai kebutuhan transaksi pembayaran dan pembelian (dok. pri).


Akibatnya keinginan untuk menggunakan TCASH timbul tenggelam. Hingga pada 19 Maret 2018 saya mendatangi Grapari Telkomsel Yogyakarta untuk mengganti SIM card yang rusak. Setelah mengurus pergantian SIM Card, saya sempatkan untuk menanyakan tentang TCASH kepada petugas customer service bernama Yana. Berbekal penjelasan dari Yana, ditambah informasi yang saya baca dari digitalpayment.telkomsel.com, sehari kemudian saya memutuskan untuk memilih #pakeTCASH. Proses aktivasinya cukup mudah dan cepat, serta bisa dilakukan secara mandiri. Untuk melengkapinya saya pun memasang aplikasi TCASH Wallet di smartphone.

Mudahnya #JadiBaik dengan #pakeTCASH
Sejak saat itu saya mendapati bahwa TCASH dan aplikasi TCASH Wallet mampu mendukung kebutuhan saya dengan menghadirkan cara yang mudah dan efektif. Ada banyak manfaat dan kemudahan yang saya dapatkan dengan TCASH. Di antaranya bisa mengisi ulang pulsa serta paket internet dengan pilihan nominal sesuai kebutuhan. Dengan fitur dan cara beli TCASH yang mudah saya bisa memenuhi kebutuhan pulsa maupun internet secara leluasa.



Membeli pulsa untuk nomor sendiri dan nomor orang tua bisa dilakukan lewat TCASH secara mudah dan tanpa biaya admin (dok. pri).
Dengan TCASH bisa membelikan/mengirim paket internet untuk nomor kakak (dok. pri).

Dengan TCASH saya juga bisa mengupayakan kebaikan dan kebahagiaan untuk orang lain. Seperti misalnya membelikan smartphone untuk kakak yang ceritanya sudah saya sampaikan di awal.

Selain itu, TCASH membuat saya semakin mudah membelikan pulsa untuk orang tua di rumah. Selama ini saya terbiasa mengirim pulsa untuk nomor Ibu dan Bapak di kampung halaman. Meski kedua orang tua masih sanggup mengisi pulsa sendiri, tapi setiap bulan saya juga mengirim pulsa untuk mereka. Harapannya semakin banyak pulsa yang dimiliki oleh Ibu dan Bapak, maka kami yang terpisah jarak bisa tetap lancar berkomunikasi. Apalagi, Ibu yang sering menelepon menanyakan kabar saya di rantau. Jika pulsanya sudah mulai berkurang, kadang Ibu meminta untuk diisikan kembali.

Dulu sebelum menggunakan TCASH saya membelikan pulsa untuk orang tua melalui layanan e-banking dan fitur transfer pulsa yang dipotong dari pulsa yang saya miliki. Kini, dengan TCASH urusan transfer pulsa menjadi sangat mudah. Adanya fitur “Beli Untuk Nomor Lain” di aplikasi TCASH Wallet membuat saya bisa mengirim pulsa untuk orang tua hanya dengan beberapa sentuhan saja.

Selama bulan Ramadan ini beberapa kali saya membeli pulsa untuk orang tua melalui aplikasi TCASH Wallet. Saya juga membelikan paket internet untuk kakak. Mungkin nominal pulsa dan paket data yang saya kirimkan untuk keluarga di kampung halaman tidak seberapa. Tapi setidaknya dengan cara tersebut kami bisa terus terhubung meski terpisah jarak yang jauh. Menjelang dan saat berbuka kami sering melakukan panggilan video melalui aplikasi chatting atau berkirim foto makanan berbuka masing-masing. Demikian pula saat sahur.

Kerinduan akan kebersamaan serta kehangatan keluarga bisa sedikit terobati dengan rutin berkomunikasi. Jika pulsa dan paket internet hampir habis, saya tak terlalu khawatir  lagi karena ada saldo TCASH yang kapanpun bisa digunakan untuk menjalin kebaikan  dan kebahagiaan bersama keluarga.

Tiada Lagi Alasan Tidak Dapat Berbagi
Ternyata TCASH juga membukakan jalan kebaikan lebih dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Pada Sabtu, 2 Juni 2018, bermula saat melihat linimasa instagram saya membaca informasi berupa ajakan memberikan donasi atau sedekah yang ditayangkan oleh akun @tcash_id.

Karena penasaran saya pun mengikuti petunjuk yang ada. Dimulai dengan memindai QR code yang tersedia, kemudian muncul halaman Kado Lebaran Yatim di layar smartphone. Saya lalu mengisi nominal sedekah. Kebetulan masih ada cukup saldo TCASH. Setelah melakukan konfirmasi, notifikasi langsung dikirimkan melalui sms serta ditampilkan di halaman pembayaran TCASH tanda sedekat telah diterima.
Dengan TCASH saya bisa berdonasi mengupayakan kebaikan dan kebahagiaan untuk anak yatim menjelang lebaran (dok. pri).

Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya berdonasi melalui aplikasi dompet digital atau uang elektronik. Pengalaman ini sangat berkesan karena ternyata dengan #pakeTCASH saya bisa berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Bagi saya TCASH telah memberikan nilai tambah pada sebuah dompet digital yang manfaatnya tidak lagi hanya ditujukan untuk kebutuhan pemiliknya, tapi juga sebagai media dan saluran untuk berbagi rezeki pada sesama. Saya senang sekaligus bersyukur karena telah turut serta mengupayakan kebahagiaan bagi anak-anak yatim melalui TCASH. Semoga pemberian yang tidak seberapa itu bisa menghadirkan kebaikan.

***
Beberapa pengalaman di atas membuat saya semakin mantap untuk terus menggunakan TCASH. Apalagi, selain cara pakai TCASH yang mudah, juga memungkinkan  untuk lebih berhemat. Hal ini karena pembelian pulsa maupun paket data melalui TCASH tidak dikenakan biaya tambahan. Donasi atau sedekah yang dibayarkan melalui TCASH juga bebas biaya administrasi. Selain itu, banyak transaksi pembelian dan pembayaran di merchant TCASH yang disertai cashback sehingga biaya yang dikeluarkan lebih murah.

Dengan TCASH semua bisa jadi baik dengan cara yang mudah (dok. pri).
Lebih dari itu semua, banyak kebaikan yang bisa diupayakan melalui TCASH. Bukan hanya untuk diri sendiri, kebaikan uang elektronik dan dompet digital TCASH juga bisa menjadi sarana untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar kita.  Dengan #pakeTCASH semua bisa #JadiBaik dengan cara yang mudah.

Sabtu, 05 Mei 2018

Mencecap "Sang Pisang" Dari Kaesang

Menjelang sore, tiba-tiba ingin menikmati cemilan. Teringat pernah makan naget pisang. Jadilah saya memutuskan membuka aplikasi Gojek di smartphone. Pada fitur GoFood saya mencari Sang Pisang milik anak Jokowi, Kaesang Pangarep.

Naget pisang "Sang Pisang" (dok. pri).
Di aplikasi GoFood satu kotak Sang Pisang berisi 10 naget pisang dihargai Rp25.000, belum termasuk topping tambahan. Sementara jasa antarnya Rp13.000. Harga total yang lumayan mahal itu membuat saya beralih untuk mencoba GrabFood. Di aplikasi GrabFood sekotak Sang Pisang ternyata dihargai lebih murah, yaitu Rp22.000 dan biaya pengantarannya hanya Rp3000. Selisih yang cukup mencolok dengan GoFood.

Saya pun akhirnya memesan melalui GrabFood dan segera diterima oleh seorang pengemudi Grab dengan perkiraan waktu pengiriman 40 menit. Lumayan lama, tapi tak mengapa.

Kemasan "Sang Pisang" (dok. pri).
Katanya #BUKANKUEARTIS (dok. pri).

Sang Pisang ternyata tiba 20 menit lebih cepat dari perkiraan. Satu kotak kertas berwarna hitam berukuran 20x10x4 cm dengan permukaan mengkilat saya terima. Bersama kemasannya diberikan sebuah garpu plastik berukuran kecil dan beberapa lembar tisu bersih.

Pada bagian atas tutupnya ada sebuah tulisan menarik: “Naget Pisang Kesayangan Sang Pisang By Kaesang”. Lalu di balik tutup kemasannya, Kaesang menitipkan semacam peringatan: #BUKANKUEARTIS. Barangkali ia hendak mengatakan bahwa dirinya bukan artis. Meski predikat anak presiden sebenarnya telah membuat keterkenalannya melampaui artis. Dan oleh karena itu pula, Kaesang pun ingin berkata bahwa Sang Pisang bukan lahir dari semangat aji mumpung menjual kue-kue yang serba homogen yang sebenarnya tidak ada istimewanya, tapi dengan modal nama beken diri dan kota besar, lalu dibuat promosi seolah-olah kue artis adalah jajanan yang mahanikmat dan maha istimewa.
Masih banyak minyak yang tertinggal di naget (dok. pri).
Saat tutupnya dibuka aroma wangi  menguar dari naget pisang berlumur saus strawberry yang saya pilih sebagai tembahan saus. Wanginya menurut saya cukup menggoda. Apalagi, lumeran saus pink yang menyelimuti permukaan naget terlihat sangat menarik. Tampilan luar Sang Pisang yang memikat tersebut mungkin bisa menjadi pemakluman atas harganya yang lebih mahal dari naget pisang lainnya.

Sementara pada sisi yang tidak berlumur saus strawberry, terlihat warna luar naget yang kecoklatan dengan tepung krispi yang kering. Naget yang saya terima sepertinya baru digoreng karena selain masih hangat, jejak minyaknya juga masih banyak tertinggal di permukaan. Ini yang saya sayangkan. Naget pisang akan lebih baik jika disajikan setelah ditiriskan minyaknya, baru kemudian dilumuri toping atau saus agar rasa dan tampilannya sama baiknya.
 
Bagian dalam naget Sang Pisang berwarna kuning keemasan, teksturnya lembut, padat, dan sedikit lengket seperti halnya daging pisang yang dihaluskan.  Bahkan, biji pisang pun masih dapat ditemukan di dalam naget Sang Pisang.

Rasanya lumayan manis. Sayangnya, saya salah memilih saus toping. Indera pengecap saya mendapati saus strawberrynya terlalu manis dan “medok” sehingga membuat rasa naget secara keseluruhan menjadi kurang nikmat. Penggemar berat makanan manis mungkin menyukai totalitas rasa seperti ini. Tapi bagi pemilik lidah lainnya, sentuhan dari saus strawberry ini terasa berlebihan alias lebay.

Naget "Sang Pisang" (dok. pri).
Bagi saya saus strawberry yang ditambahkan, apalagi jumlahnya banyak, kurang cocok untuk naget Sang Pisang yang rasa aslinya sudah lumayan manis. Bahkan, tanpa dilumuri saus pun naget Sang Pisang sebenarnya sudah bisa menjadi teman minum teh atau kopi yang nikmat. Apalagi jika minyak sisa penggorengannya telah lebih dulu ditiriskan agak lama sehingga rasa manis, lembut, dan sensasi krispinya dapat dinikmati secara pas.

Sang Pisang tampaknya perlu melakukan eksperimen ulang atau menguji lagi penambahan saus dan topingnya secara tepat dengan lebih memperhatikan kesesuaian rasa, selain mementingkan tampilan luar. Tidak semua saus dan toping cocok ditambahkan dalam jumlah banyak. 

Manisnya berlebihan (dok. pri).

Saus strawberry yang “medok” ini  membuat rasa Sang Pisang menjadi berlebihan dan kurang bisa dinikmati. Ada baiknya Sang Pisang mempertimbangkan modifikasi penyajian dan penjualan pisang nagetnya. Misalnya, memberikan pilihan penambahan saus secara terpisah sehingga Sang Pisang bisa dinikmati  lebih fleksibel dengan mencocolkannya dalam saus sesuai selera.

Senin, 23 April 2018

KAHITNA di Mocosik Festival: Mengungkit Cinta (yang) Sudah Lewat


Panggung Mocosik Festival 2018 di Jogja Expo Center berhenti sejenak pada Jumat (20/4/2018) malam. Sorot lampu yang sebelumnya gemerlap saat Rio Febrian tampil, menjadi redup. Suara musik tak lagi terdengar, digantikan oleh celoteh duo MC mengisi senjang waktu. 

Tapi itu hanya berlangsung beberapa menit. Pukul 21.30 suasana kembali menghangat. Penonton yang semula duduk istirahat di lantai dan menepi ke baris belakang merangsek maju berusaha mencapai jarak terdekat dengan muka panggung saat nama KAHITNA disebut.

Panggung KAHITNA di Mocosik Festival 2018 (dok. pri).

Panggung berpendar lagi bersamaan layar LED di belakang menampilkan gambar KAHITNA. Seru penonton tak terbendung kala personel KAHITNA yang dipimpin Yovie Widianto muncul untuk segera mengambil alat musiknya masing-masing. 

Tapi KAHITNA baru enam orang. Tiga vokalisnya belum terlihat. Lalu tiba-tiba terdengar suara menggoda. ”Are you ready?”, sapa vokalis Mario yang segera disambut penonton penuh semangat. Vokalis termuda KAHITNA itu keluar dari balik panggung seorang diri. Tanpa banyak bicara lagi, bait-bait Takkan Terganti dibawakannya. Saat suasana semakin syahdu, dua vokalis lainnya bergabung menuntaskan tembang.

Dengan waktu tampil kurang dari satu jam, hanya sembilan lagu yang sempat dibawakan KAHITNA. Meskipun demikian, aksi band yang berdiri 24 Juni 1986 ini tetap maksimal. Suara merdu Hedi, Carlo, dan Mario dalam kawalan aransemen manis khas KAHITNA membuat penonton dengan cepat dimabuk cinta. Dalam kerumunan penonton komposisi wanita terlihat mendominasi. Tak perlu merasa heran karena salah satu takdir KAHITNA memang untuk dipuja dan dipuji oleh kaum hawa.
Tak Sebebas Merpati (dok. pri).
Tak Sebebas Merpati (dok. pri).
Sepanjang penampilannya, KAHITNA tak hanya bernyanyi. Keintiman diperlihatkan para vokalis dengan berkali-kali menyapa para penggemar. Interaksi semakin intim manakala KAHITNA mengajak seorang penonton wanita ke atas panggung. Sambil menembangkan Tak Sebebas Merpati, KAHITNA menjadikan penonton beruntung itu layaknya seorang puteri yang dihujani banyak cinta. Sementara di seberang panggung penonton-penonton lain melengking histeris tanda iri.

Sebagian besar penonton malam itu adalah anak milenial, penggemar KAHITNA era Mantan Terindah. Terselip di antara mereka terlihat ada orang tua, pasangan ayah bunda era Cerita Cinta dan Cantik yang membawa anak-anaknya. Ada pula yang hadir bersama balita dengan kereta dorong.
KAHITNA (dok. pri).

Melihat rentang usia dan generasi penonton malam itu dengan banyak gerombolan ABG, sejenak terlupakan bahwa KAHITNA adalah grup berumur lebih dari tiga dekade yang usia para personelnya mendekati kepala lima. Mereka sudah berkiprah di kala banyak penggemarnya malam itu belum atau baru lahir. Toh, penggemar-penggemar ABG itu nyatanya tak kesulitan untuk menyamakan frekuensi dengan KAHITNA. Pada lagu Cerita Cinta misalnya, koor massal dan sahutan “huo huo huo” dengan lantang mereka tirukan.

Antusiasme dan rasa senang itu pula yang membuat penonton tak terlalu memedulikan rasa gerah di ruangan tempat pertunjukkan. Penonton pun terus bernyanyi sampai KAHITNA menutup penampilan dengan tembang lawas “Cantik”.

***
Mario, Hedi, Carlo (dok. pri).

Ini adalah  pertunjukkan publik kedua KAHITNA  di Yogyakarta pada 2018. Sebelumnya pada 3 Februari 2018 mereka tampil sebagai bintang utama pada pentas “Glowing9” di auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Mundur jauh  ke belakang, KAHITNA  pernah tampil juga di Jogja Expo Center 10 tahun silam, tepatnya pada Mei 2008. Ketika itu mereka berbagi panggung “Sound of Love” bersama Yovie & Nuno dan Ari Lasso. Sayang pertunjukkan malam itu seolah menjadi pentas privat yang aneh karena panggung hanya dikelilingi segelintir penonton. Belum lagi kualitas sound system ikut menambah gangguan pertunjukkan.

Kesan tentang panggung Mei 2008  ternyata sempat membekas dalam catatan Mas Bedi, manajer KAHITNA. Setidaknya dalam obrolan singkat kami di lobi Hotel Kartika Graha Malang pada Desember 2011, sesaat sebelum KAHITNA tampil di hotel itu, Mas Bedi mengingatnya dengan menambah komentar, "Oh, yang sepi penonton itu ya?"
KAHITNA di Jogja Expo Center, Mei 2008 (dok. pri).


Kini, sepuluh tahun berselang KAHITNA kembali lagi ke tempat itu dengan suasana yang berbeda dan lebih baik. Tentulah usia mereka telah bertambah 10 tahun, tapi tak ada yang mempersoalkan itu karena baik dulu maupun sekarang KAHITNA sepertinya tak berubah. Di atas panggung mereka masih tetap bintang dengan sorot paling bercahaya.
***

Hal menarik lainnya dari KAHITNA di Mocosik Festival 2018 adalah daftar lagu mereka. Membuka pertunjukkan dengan Takkan Terganti boleh dibilang tidak biasa, meski repertoir mereka belakangan memang menempatkan lagu ballad ini di awal. Usai Takkan Terganti, barulah KAHITNA menggempur hati penonton dengan Cerita Cinta, Tentang Diriku, Andai Dia Tahu, Katakan Saja, Soulmate, dan lain sebagainya.

Malam itu tak ada nomor galau “Aku Dirimu Dirinya” di repertoir KAHITNA. Tak ada lantunan  “Rahasia Cinta”, juga tak ada persembahan untuk “Mantan Terindah”. KAHITNA lebih memilih untuk mengungkit “Cinta Sudah Lewat” yang berkisah tentang dua hati yang harus berpisah secara tragis dan tak boleh saling mengingini lagi.

Cinta Sudah Lewat adalah salah satu hit sendu pada album Cinta Sudah Lewat (CSL) yang dirilis tahun 2003. Mungkin banyak yang melewatkan perhatian bahwa album CSL inilah yang yang menjadi biang KAHITNA semakin dicap kuat oleh banyak orang sebagai band mellow. KAHITNA memang menaruh banyak lagu sendu di album ini yang selain Cinta Sudah Lewat diterbitkan pula Tak Mampu Mendua, Takkan Terganti, dan Jadi Saja. Nuansa album ini berbeda dengan album-album lawas Cerita Cinta, Cantik, dan Sampai Nanti.



Selepas CSL KAHITNA semakin rajin membawa kisah cinta perih pada album-album berikutnya. Lewat album Soulmate (2006) KAHITNA melahirkan tiga hit galau Aku Dirimu Dirinya, Cinta Sendiri, dan Soulmate. Pada album Lebih Dari Sekadar Cantik (2010) KAHITNA menyodorkan Mantan Terindah yang kemudian menjadi “lagu tema” para korban mantan. Sementara pada album Rahasia Cinta (2015) meski nuansa sendu telah sedikit berkurang, tapi kisah cinta perih tetap dimunculkan melalui Kekasih Dalam Hati dan Rahasia Cinta.

Jadi, rasanya bukan tanpa makna jika KAHITNA memilih menyingkirkan Mantan Terindah. Di hadapan para penggemar milenialnya malam itu, KAHITNA ingin memberi tahu lagi, terutama pada para penggemar era Mantan Terindah, bahwa Mantan Terindah, Cinta Sendiri, Aku Dirimu Dirinya, atau bahkan Soulmate, semua itu pada dasarnya adalah Cinta (yang) Sudah Lewat. Biarkanlah.

KAHITNA! (dok. pri).
KAHITNA di Mocosik Festival 2018 (dok. pri).

kadang ingin aku bertemu/dan berbagi waktu yang terlalui/
sukar tuk sadari/ku tak boleh mengingini/
tanpamu cinta tak berarti/cinta sudah lewat/tak ku kita kan begini/
mengapa harus kau terikat/meski tlah terucap/
hanya aku yang ada di hatimu

Selasa, 10 April 2018

Mengintip LGBT di Yogyakarta


Akhir-akhir ini LGBT kembali ramai diperbincangkan di Indonesia. Bahkan, menjadi isu nasional yang bermuatan politis. 

LGBT adalah sebutan untuk kaum non-heteroseksual yaitu lesbi, gay, biseksual dan transgender. Selama ini LGBT mendapat stigma yang buruk di tengah masyarakat. Orientasi seksual dan penyimpangan perilaku mereka dianggap sangat tidak pantas, dicap hitam, bahkan dianggap sebagai penyakit sosial yang membahayakan. Kaum LBGT pun mengalami diskriminasi yang nyata.  Tak sedikit dari mereka terasing dari keluarga dan lingkungan asalnya.
"Seorang transmen atau pria trans sekaligus pegiat LSM LGBT tampil dalam  pertunjukkan 100% Yogyakarta pada Oktober 2015.

Beberapa waktu lalu sebelum  ramai menjadi isu politis, LGBT diperbincangkan lewat suara-suara dan pandangan dari lingkungan istitusi pendidikan.  Pandangan-pandangan itu pun menimbulkan kontroversi. Misalnya, pernyataan Menristekdikti yang menyebutkan LGBT dilarang masuk ke dalam kampus mendapat kritikan tajam. Hal itu kemudian diluruskan bahwa bukan LGBT yang dilarang, melainkan ekspresi hubungan mereka yang tidak boleh dibawa ke dalam kampus. Namun kritik tak langsung mereda sehingga sang menteri kemudian berbalik menyatakan bahwa ia tidak melarang LGBT di kampus.

Masalah LGBT memang tidak sederhana karena menyangkut banyak hal mengenai kehidupan seseorang. Silang pendapat mengenai LGBT juga akan selalu ada. Akan tetapi, munculnya pandangan dan suara-suara yang tidak produktif seputar LGBT, yang berasal dari lingkungan pendidikan dan kaum terdidik memang pantas disayangkan. Institusi pendidikan yang semestinya menjadi ruang berpikir, memberi apresiasi dan anti-diskriminasi, justru memiskinkan ketiga hal tersebut.

Ada peristiwa menarik yang barangkali bisa menjadi pelajaran dan refleksi berpikir bagi kita semua dalam memandang permasalahan LGBT.

Peristiwa pertama terjadi pada Juli 2013 di Malioboro. Ketika itu ada karnaval budaya menuju halaman depan Kantor Gubernur DIY. Dalam karnaval tersebut terlihat puluhan peserta yang tampil dengan mengenakan aksesoris dan membawa bendera atau kain berwarna pelangi yang selama ini identik dengan kaum LGBT. Mereka juga mengusung poster-poster yang berisi ajakan untuk menghentikan diskriminasi dan bullying terhadap kaum LGBT. Di antara mereka terdapat beberapa warga asing yang turut serta.

Tidak diketahui pasti apakah puluhan partisipan karnaval tersebut merupakan kaum LGBT atau hanya pegiat anti-diskriminasi dan anti-bullying yang juga peduli dengan masalah LGBT. Namun hal itu paling tidak menunjukkan bahwa Yogyakarta dan masyarakatnya memberikan ruang bagi perbedaan, termasuk bisa menerima mereka yang secara nyata memiliki orientasi yang berbeda.


Peristiwa lain berlangsung pada 31 Oktober 2015 dalam pertunjukkan “100% Yogyakarta” di Taman Budaya Yogyakarta. Dari 100 pemeran utama yang terlibat dalam acara tersebut, ada satu orang yang menarik perhatian panggung. Saat itu di hadapan ribuan penonton ia mengungkap jati dirinya yang “berbeda”. Tepuk tangan gemuruh seketika terdengar seperti memberi apresiasi serta dukungan atas keberaniannya bersuara.

M, begitulah inisial namanya. Ia adalah adalah seorang transmen atau transgender female to male sekaligus pegiat LSM masalah LGBT. Mengintip akun media sosial miliknya, M terlihat percaya diri mengungkap identitasnya secara terbuka. Di akun tersebut ia memposting foto-foto dan cerita kegiatannya sehari-hari yang tak jauh berbeda dengan masyarakat lain pada umumnya. Ia dan rekan-rekannya berdialog dengan komunitas lain di Yogyakarta, mengunjungi pegiat sosial dan mendengarkan bimbingan, serta bertukar pikiran tentang banyak hal menyangkut kehidupan mereka.

M yang berasal dari Malang memutuskan pindah ke Yogyakarta beberapa tahun lalu. Meski pandangan aneh masih sering diterima, namun baginya Yogyakarta adalah rumah yang lebih baik. Ia dan rekan-rekannya seperti mendapatkan kehidupan lagi setelah terkekang dengan lingkungan sebelumnya. Di Yogyakarta ia mendapatkan hak-haknya sebagai warga masyarakat. Bahkan, ia juga bisa kuliah di sebuah perguruan tinggi. Ia lalu memberikan testimoni begini: “Kalau urusannya dengan identitasku, Jogja masih menyenangkan karena dialog tentang LGBT itu sangat mudah dilakukan di sini”.

Tak hanya melalui dialog, potret LGBT di Yogyakarta juga pernah diangkat ke dalam penelitian skripsi. Salah satunya oleh Nadya Miranti untuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2013. Ia bahkan mengangkat realitas kaum LGBT di lingkungan kampus, khususnya kondisi psikologis mahasiswa biseksual di Yogyakarta.

Beberapa fakta dan informasi penting terungkap dalam skrispi tersebut. Salah satunya tentang adanya pergolakan batin dan konflik intrapersonal pada diri kaum biseksual. Sebagian dari mereka mengalami kebingunan ketika berniat untuk memperbaiki orietasinya. Di sisi lain mereka berusaha menyembunyikan hal itu karena lingkungan terlanjur memandang buruk ke arah mereka.
Suara-suara tentang LGBT dalam sebuah parade di Maliboro pada Juli 2013.

Dari realitas-realitas di atas, tidakkah kita berpikir bahwa daripada memerangi atau memusuhi mereka, mengapa tidak kita coba untuk menjadi pendengar bagi mereka? Sembari berharap mereka bisa lepas dari kebingungan. Atau lebih baik diam agar kita tidak mudah membenci sesama manusia.

Rabu, 04 April 2018

Soedirman, Buku yang Miskin Cerita

Soedirman adalah salah satu ikon utama perjuangan nasional bangsa Indonesia. Jenderal Besar yang lahir di Purbalingga, Jawa Tengah ini barangkali adalah gambaran lengkap dari seorang patriot dan pahlawan. 
Buku "Soedirman" (dok. pri).

Sayangnya, buku "Soedirman" dari penerbit Araska yang baru saya baca ini tidak berhasil merangkai profil kebesaran sang Jenderal secara menarik dan megah. Meski di bawah judul "Soedirman" terdapat keterangan "Riwayat Hidup, Perjuangan dan Kisah Cinta Sang Jenderal", tapi  buku ini seperti kekurangan bahan untuk menceritakan  hal-hal tersebut.

Selain kurang mendalam, beberapa informasi dalam buku ini juga kurang akurat. Inkonsistensi mengenai beberapa hal tentang Soedirman membuat pembaca bingung. Ditambah banyak kalimat yang susunannya tidak tepat.

Buku ini terlalu banyak mengulang-ngulang hal yang sama melalui kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf yang dimunculkan beberapa kali. Bahkan ada sekitar 15 halaman yang bisa langsung dilewati dan tak perlu dibaca lagi.

Barangkali buku ini ditujukan sebagai biografi dan rangkuman perjalanan hidup Soedirman. Akan tetapi, membaca buku ini secara keseluruhan seperti disuguhi  kumpulan cerita yang sudah ada sebelumnya, kemudian dirangkai, tanpa banyak menghadirkan telaah baru atau informasi tambahan. Ketika buku ini memasukkan panjang lebar cerita fiksi dari novel tentang Soedirman, upaya untuk melengkapi informasi menjadi terlihat aneh dan dipaksakan.

Pada akhirnya bagi saya buku ini belum bisa menjadi referensi alternatif yang menarik tentang Jenderal Soedirman.

Cerita Populer

BERANDA