Kamis, 18 Juli 2013

Menu Berbuka Baik-Baik: Nasi Goreng Arang


Sepintas tak ada yang istimewa dari nasi goreng ini. Menempati sebuah warung kecil, nasi goreng disiapkan dan dimasak di sebuah gerobak kayu. Dua sampai tiga potong ayam matang tergantung di atasnya. Wadah kaca berisikan mie kuning dan bihun menandakan kalau tempat ini juga menyajikan bihun goreng dan bakmie jawa.

Namun nasi goreng adalah yang paling banyak dipesan pembeli di tempat ini. Bukan saja karena rasanya yang gurih dan porsinya yang lumayan banyak, tapi yang istimewa adalah memasaknya yang masih menggunakan tungku dan arang. Tak banyak nasi goreng dan bakmie Jawa yang masih mempertahankan cara memasak menggunakan arang seperti ini.

Oleh karena itu yang menarik juga di tempat ini adalah sebelum makan pembeli akan mendapatkan tontonan cara memasak tradisional yang mengesankan. Penjual awalnya mengipasi tungku. Ketika sudah mulai memasak tugas mengipasi diserahkan kepada sebuah kipas angin kecil. Arang pun membara, pijarnya yang merah membuat tungku seakan berpendar. Panas arangnya sampai terasa ke tempat duduk pembeli. Yang sangat menarik adalah ketika bara arang menghasilkan “kembang api” yang terbang dari dalam tungku. Proses memasak pun menjadi seperti sebuah pertunjukkan. Tak jarang “kembang api” tersebut begitu besar hingga membuat sang penjual agak menjauh sejenak dari wajan penggorengannya.


Setiap harinya nasi goreng arang buka mulai pukul 18.00 hingga 24.00 dan selama bulan puasa biasanya akan ramai selepas shalat tarawih. Seperti ketika saya 2 hari lalu datang ke sana jelang pukul 9 malam, banyak orang sudah mengantri.

Agak berbeda dengan warung nasi goreng lainnya, pembeli di tempat ini biasanya lebih sering membeli untuk dibungkus daripada makan di tempat. Warungnya yang kecil, mungkin hanya bisa memuat 8 orang, ditambah letaknya di tepi jalan yang ramai tanpa tempat parkir yang cukup boleh jadi menjadi alasan mengapa banyak pembeli lebih suka membungkusnya.

Satu porsi nasi goreng arang disajikan bersama potongan acar mentimun. Taburan bawang merah goreng dan daun seledri menjadi pelengkap. Sayang di sini tidak menyediakan kerupuk. Telur orak-arik dan beberapa potong daging ayam berpadu pas dengan butiran nasinya yang tidak terlalu besar. Proses memasaknya yang menggunakan arang membuat panasnya lebih merata serta tahan lama. Aroma seperti terbakar juga membuat nasi goreng ini makin menggugah selera.

Satu lagi yang membedakan nasi goreng arang ini dengan jualan sejenisnya adalah penggunaan kuah kaldu ayam. Ketika menggoreng, sedikit kaldu ayam ditambahkan sehingga nasi goreng yang dihasilkan sedikit lengket namun tidak basah. Bagi yang tidak suka silakan memesan tanpa tambahan kaldu. Jika menghendaki tambahan sayap atau kepala ayam sebagai campurannya  kita bisa memintanya secara khusus, tentu dengan harga yang sedikit lebih mahal.

Soal rasa, seperti yang saya bilang di awal, nasi goreng arang ini cukup meninggalkan jejak di lidah. Perpaduan bumbunya yang pas, kaldu ayam serta panas dan aroma pembakaran dari arang menghasilkan sensasi nikmat yang kuat di lidah. Saya biasa memesannya tanpa saus dan tidak pedas sehingga rasa manisnya menjadi sedikit kuat karena kecapnya menjadi lebih dominan.

Tertarik untuk mencobanya sebagai menu berbuka?. Cukup Rp. 9.000 kita bisa menikmati seporsi nasi goreng arang ini ditambah pertunjukkan percikan kembang api bara arang yang menjalar ke sana-kemari. Di mana?. Nasi goreng arang lek Man ini ada di Jalan Kaliurang Km.5 atau 500 meter dari kampus Universitas Gadjah Mada. Dari Gading Mas 2, warung nasi goreng ini berada 10 meter di sebelah selatannya. Atau jika dari Gudeg Yu Djum yang berada di gang Srikaton, nasi goreng ini berada 30 meter di sebelah utaranya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA