Senin, 26 Agustus 2013

PERNIKAHAN kemarin


Dua tahun belakangan saya menjadi sangat sering memotret sebuah pernikahan yang digelar keluarga besar atau kawan dekat. Ada banyak pelajaran yang diam-diam saya dapatkan seperti ragam prosesi adat pernikahan Jawa. Ternyata prosesi adat pernikahan berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak seragam. Suatu hari saya menyaksikan pernikahan kakak yang diisi dengan berbagai prosesi mulai dari menginjak telur, membasuh kaki, saling suap makanan dan minuman dan sebagainya. Namun minggu lalu saya menyaksikan pernikahan sepupu yang digelar di Yogyakarta ada beberapa prosesi yang tidak saya jumpai hingga berlangsung lebih singkat. Padahal tahun lalu saya mengikuti prosesi pernikahan seorang sahabat yang digelar di Yogyakarta, rangkaian prosesinya  cukup lengkap mirip dengan prosesi pernikahan adat Jawa Tengah. Entahlah apakah memang sebenarnya prosesi pernikahan data Jawa bukan sesuatu yang harus dilaksanakan lengkap dan hanya sebagai simbol ataukah ada alasan lain yang saya belum mengerti.


Memotret prosesi pernikahan juga bisa menjadi sarana saya belajar menghargai momen sekaligus cermat menentukan waktu. Seringkali ketika memotret sebuah peristiwa saya terburu-buru mengambil gambar, lalu langsung melihat hasilnya hingga sering terlambat mengabadikan momen penting selanjutnya. Padahal ada banyak peristiwa yang tidak berulang dan setiap momen yang terlalui pada dasarnya sangat  berharga. Demikian juga dalam pernikahan. Dari balik jendela bidik saya mencoba menahan diri untuk tidak segera menekan shutter namun juga tetap awas mengikuti detik-detik berharga seperti pengucapan akad nikah hingga momen ketika cincin dilingkarkan di jari manis. 


Memotret prosesi pernikahan juga memberikan pelajaran untuk tidak terlalu sering memeriksa hasil potret sebelum rangkaian persitiwa benar-benar selesai atau setidaknya momen-momen penting sudah seluruhnya didapat. Bukan hanya lebih menghemat baterai tapi juga menjaga passion memotret. Karena sebagai seorang yang hanya memotret untuk hobi, mood berpengaruh besar untuk saya.


Memotret sebuah prosesi pernikahan juga melatih kreativitas. Seringkali dalam sebuah pernikahan terutama prosesi akad nikah ada banyak anggota keluarga yang berkerumun untuk ikut mengabadikan momen penting tersebut. Jika di tempat umum atau ketika memotret peristiwa jalanan dan pemandangan kita bisa leluasa dan “seenaknya” menerobos keramaian atau melompat ke sana kemari,  di sebuah pernikahan hal itu tak bisa dilakukan. Oleh karena itu seringkali kita yang hanya seorang “fotografer tamu” mendapatkan posisi yang tidak ideal untuk memotret di sebuah pernikahan. Namun dari kondisi itulah kita bisa belajar memaksimalkan sudut yang sempit untuk menghasilkan foto-foto yang manis. Memotret akad nikah dari celah kerumunan orang bisa menjadi sangat menarik. Demikian juga mengambil gambar dari samping pundak orang di depan kita dapat membekukan momen pernikahan secara lebih mengesankan. Mengambil gambar dari celah jemari juga seringkali menghasilkan foto yang cantik. Jika dari atas tetap susah, cobalah untuk mengambil gambar dari posisi yang lebih rendah contohnya saat pengantin sedang berjalan. Bisa jadi hasilnya lebih dramatis.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA