Jumat, 06 September 2013

Pegunungan Menoreh, Sebuah Potret Kesahajaan Indonesia


Hari sudah hampir gelap ketika saya tiba di Pegunungan Menoreh. Bukan karena sudah malam tapi karena kabut yang turun dengan cepat menyelimuti langit Menoreh. Padahal saat itu siang baru mengunjuk pukul setengah tiga. Di Pegunungan Menoreh kabut memang kerap turun lebih dini. Jika cuaca mendung atau saat hujan sedang senang membasahi kawasan itu, siang hari selepas pukul satu kabut bahkan sudah turun. Sore seolah seperti malam, malam pun seakan datang lebih cepat, subuh seperti datang kepagian.


Saya segera masuk ke dalam rumah seorang penduduk yang sudah saya kenal. Di rumah inilah saya dan kawan-kawan biasanya “transit” ketika hendak menjelajahi alam Pegunungan Menoreh untuk melakukan inventarisasi Anggrek alam. Di rumah sederhana yang sebagian ruangannya masih beralaskan tanah dan sebagian lainnya berubin sederhana ini kami selalu disambut dengan ramah. Tak terkecuali hari itu.

Penduduk Pegunungan Menoreh hidup dalam kesahajaan. Selain karena prinsip hidup, kesederhanaan itu mungkin juga  dikarenakan karena faktor geografis tempat tinggal mereka berada jauh dari kota sekitarnya yang menjadi alas Pegunungan Menoreh yakni Yogyakarta, Magelang dan Purworejo. Di samping itu memang banyak penduduk Pegunungan Menoreh yang memiliki keterbatasan ekonomi.


Rumah-rumah di Pegunungan Menoreh banyak yang masih berdinding kayu atau anyaman bambu. Lantainya masih terbuat dari tanah atau campuran semen dan pasir yang sederhana. Tapi banyak juga rumah dengan tembok batu bata dan atap genting berwarna. Meski rumah-rumah itu tetap sederhana dan sering dijumpai di tengah rimbun pepohonan dan semak liar.

Meski Menoreh dipenuhi hutan, tapi di saat-saat tertentu air menjadi sangat sulit didapat hingga warga harus menempuh jarak yang jauh untuk mengambil beberapa ember air di sumber air. Mereka pun sering tidak mudah mendapatkan kebutuhan pokok. Jauhnya jarak tempat tinggal dengan ibu kota Kecamatan membuat mereka lebih kerap berbelanja ke pasar di provinsi tetangga. Penduduk kampung Sukomoyo misalnya, meski kampung mereka berada wilayah Yogyakarta namun mereka lebih sering berbelanja ke pasar Cublak di perbatasan wilayah Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa pedagang keliling termasuk pedagang jajanan  yang biasa menyambangi anak-anak di kampung tersebut juga berasal dari Purworejo. Pedagang-pedagang itu biasanya menggunakan motor dan berhenti lama di dekat masjid atau mushola karena tempat itulah yang biasanya lebih ramai.

Penduduk Pegunungan Menoreh umumnya berladang dan berkebun. Cengkeh, salak, singkong, kacang tanah dan kaliandra banyak mereka tanam. Sebagian lainnya berdagang dan mengerjakan ladang orang lain. Ladang-ladang itu jaraknya seringkali jauh dari rumah. Sementara kebun salak umum dijumpai halaman rumah beberapa penduduk. Jika sedang panen membeli salak langsung di sana akan mendapatkan harga yang sangat murah.

Saat panen beberapa orang juga bekerja sebagai buruh yang memetik dan membersihkan hasil panen. Hubungan antara pemilik ladang dan pekerjanya pun tidak selalu diwujudkan dalam bentuk upah berupa uang. Saat panen kacang misalnya, para pekerja berhak membawa pulang daun sisa tanaman kacang untuk pakan ternak mereka di rumah. Mereka yang menjadi buruh petik juga sering membawa belasan kwintal kacang tanah ke rumah untuk dibersihkan bersama-sama dengan tetangga. Dengan demikian mereka tak harus seharian bekerja di ladang dan meninggalkan rumah.


Penduduk pegunungan Menoreh juga banyak yang memelihara kambing. Kandang dengan beberapa ekor kambing di dalamnya dijumpai di beberapa rumah penduduk. Kambing-kambing Pegunungan Menoreh rupanya cukup terkenal di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sementara sebagian penduduk Menoreh lainnya berdagang di pasar atau tempat-tempat lain yang jauh dari rumah. Oleh karena itu di siang hari kampung-kampung menjadi sepi karena penduduknya bekerja dan baru akan sampai lagi di rumah sore harinya.

Namun kesederhanaan dan keterbatasan hidup tak menjadikan penduduk Menoreh kehilangan senyum dan enggan berbagi. Penduduk menoreh bahkan memiliki toleransi yang tinggi terhadap sesama. Banyak penduduk di Pegunungan Menoreh memeluk agama Hindu. Namun mereka sanggup membina kerukunan dan menjalin ketentraman hidup dengan penduduk beragama lain. Dalam hal ini mereka selangkah lebih maju dibanding banyak orang kota berpendidikan yang dengan banyak teori kerap bicara toleransi namun tak lebih hanya sebatas ucapan. Sementara penduduk Menoreh sanggup menjalankan toleransi melalui cara yang sederhana namun sangat bermakna.

Hubungan tetangga dijalankan dengan sangat hangat. Dapur milik seseorang penduduk bisa manjadi dapur bagi tetangganya. Rumah-rumah juga kerap tidak dikunci rapat meski penghuninya pergi. Hal itu  supaya tetangga mereka bisa masuk jika memerlukan sesuatu seperti meminjam alat atau meminta bumbu dapur.

Hal yang sama juga berlaku untuk para tamu yang bertandang. Orang-orang yang bertamu dipersilakan menggunakan dapur dan peralatan masak penduduk untuk mengolah bahan makanan yang mereka bawa dari kota. Tentu saja kita tak bisa menuntut sebuah dapur mewah dengan peralatan masak yang bagus. Sebuah tungku dari batu bata, kayu bakar dan panci yang hitam legam bagian bawahnya adalah peralatan masak sehari-hari kebanyakan penduduk Menoreh. Beberapa di antara mereka sebenarnya sudah memiliki kompor gas kecil dan tabung melon 3 kg, namun itu hanya mereka gunakan di saat-saat tertentu saja. Banyaknya kayu bakar yang bisa mereka dapatkan dari kebun dan hutan di sekitar tempat tinggal membuat mereka selalu nyaman “mengasapi” dapur.


Saya beruntung ketika datang sang tuan rumah sedang menyiapkan banyak pesanan untuk rombongan yang akan berkunjung ke Pegunungan Menoreh esok harinya. Selain disuguhi teh panas saya pun dipersilakan makan bersama. Jangan pernah menolak ajakan makan penduduk Menoreh. Meski menunya sederhana mereka kerap sengaja menyisihkan beberapa piring lauk dan nasi untuk para tamu yang berkunjung ke rumah. Mereka senang jika tamunya mau menikmati suguhan sambil diajak bercerita.


Beberapa penduduk Menoreh biasa menerima pesanan makanan untuk para penjelajah atau wisatawan yang hendak menghabiskan sehari atau beberapa hari di Pegunungan Menoreh. Masakan sederhana seperti urapan, tempe goreng, telur rebus dan kering tempe paling sering disajikan untuk para tamu dari kota. Menikmati hidangan seperti demikian di Pegunungan Menoreh selalu terasa lebih nikmat. Mungkin karena Menoreh yang dingin atau karena dimasak dengan tungku dan kayu bakar.

Malam hari dingin semakin menjadi. Rumah-rumah tampak memancarkan cahaya tapi jalanan tetap gelap tak berwarna. Tak banyak aktivitas luar rumah yang dilakukan oleh penduduk Menoreh di malam hari. Beberapa penduduk  hanya terlihat keluar menyusuri gelap dan kabut tebal ketika waktu sholat tiba.


Sementara itu sepiring singkong rebus di hadapan saya hampir tandas. Tuan rumah menyuguhi singkong rebus dan kopi panas untuk kami. Tapi saya tidak meminta kopi lalu tuan rumah menggantinya dengan teh tawar dan gula pasir yang terpisah. Penduduk menoreh biasanya membuat minuman hangat seperti teh atau kopi dengan gula yang banyak. Rasa manisnya awet meski gelas telah beberapa kali dituang dengan air panas yang baru. Saya yang tidak suka minuman terlalu manis pun dipersilahkan menambahkan gula sendiri.


Malam semakin larut. Dinginnya semakin terasa, tak terhitung berapa kali saya menuang air panas ke dalam gelas teh. Bunyi jangkerik dan tiupan angin pun akhirnya menjadi teman tidur di Pegunungan Menoreh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA