Minggu, 15 September 2013

15 SEPTEMBER


Saat melihat pintu bangsal ini saya hanya tersenyum menyimpan segenap rasa lain yang tersembunyi. Dulu saya pernah memiliki 2 malam yang berarti di sini. Di dalam bangsal di balik pintu ini saya punya waktu untuk mendengar sebuah suara, menatap sepasang mata dan menahan tawa untuk segenap tingkah laku seorang yang terbaring dengan selang infus di tangan. Meski saat itu saya tahu ini takkan lama.

Bahkan saat membaca sebuah kalimat di layar handphone malam itu, tak ada sesal apalagi marah untuk semua ini. Turun membawamu ke Rumah Sakit saja sudah cukup menguras perasaan dan ketakutan,  tak ada waktu untuk menyesali yang lain. Saya akan pergi di saat peran ini sudah berakhir, di saat  tak lagi diperlukan. Dan malam itu gerimis membawamu meninggalkan rumah sakit. Di atas kursi roda kau masih tampak sayu. Maaf, bukan mencela atau menghendakimu sakit, tapi wajah sayumu itu sangat lucu. Sementara di depanmu aku melangkah mengakhiri peranku sebagai pemeran pengganti. Semoga ada hal baik yang sempat kutinggalkan.

Setahun kemudian saya tak mengerti mengapa Allah menuliskan suratan dengan cerita begini. Bukan, saya tidak menanyakan kuasaNya, hanya mencoba menerka mungkin Allah menyukai pria yang gemar menunggu pasien di rumah sakit.

Kita bertemu lagi dan lagi-lagi di bangsal rumah sakit, lagi-lagi kau dengan selang infus di tangan dan saya menatap lagi wajah sayu yang sama. Canggung, kaku dan serba tiba-tiba. Tapi esok hari saat saya terbangun pagi, sebuah pesan singkat darimu membuatku melangkah cepat menuju bangsal pesakitanmu.

Hari-hari terlewati, ada separuh bulan Ramadhan dengan malam yang kulalui di dalam bangsal dengan mendengar sebuah suara, menatap sepasang mata dan menahan tawa untuk segenap tingkah laku seorang yang terbaring dengan infus di tangan. Sesekali kau menangis menahan hajaran jarum suntik. Tapi kemudian kau akan banyak bicara, berbagi cerita dan kesah.


Terima kasih sudah menjadikan pria ini sekali lagi sebagai pemeran pengganti. Saya tahu kau tak bisa jujur saat itu. Tapi mengatakan yang sebenarnya masih menjadi harapan yang ingin saya dengar darimu. Itu dulu. Sekarang bukan masalah lagi. Tiga tahun sudah lewat, di manapun kamu berada, hari ini di saat kamu menjadi lebih berarti untuk dirimu sendiri dan orang-orang di sekelilingmu, salah satu orang yang pernah melintasi sepersekian detik masa lalumu hanya ingin menulis surat pendek ini. Selamat Ulang Tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA