Jumat, 08 November 2013

Suatu Ketika di Stasiun Jakarta

Masih ada sekitar 5 jam lagi kereta Senja Utama tiba, waktu yang sangat lama jika hanya duduk menunggu tidak melakukan apa-apa. Membaca pun kadang jadi membosankan jika dilakukan di tengah keramaian orang yang lalu lalang. Ditambah suara bising lokomotif dan gerbong yang hilir mudik keluar masuk stasiun. Sementara suasana panas dan ruang tunggu yang tak luas membuat waktu menunggu menjadi ujian bagi saya yang belum terbiasa menumpang kereta api dan menanti boarding lama seperti ini. Beruntung baterai kamera dan ruang memori masih mencukupi untuk mengambil beberapa gambar, mencoba menikmati kehidupan stasiun kereta dengan segala hal yang terjadi di sana dan beberapa di antaranya baru pertama kali saya lihat.
Ketika tiba beberapa hari sebelumnya di stasiun yang sama, Staisun Pasar Senen, saya terkejut menjumpai banyak orang tertidur di peron hanya dengan alas koran. Baru pertama kali saya melihat hal ini. Lalu ketika keluar dan mencapai ruang tunggu saya menjumpai hal yang tak beda, bahkan ada lebih banyak orang yang membujur lelap menghadap segala arah di atas keramik yang dingin. Saya mencoba memahami karena  jam masih menunjukkan pukul 3 pagi, mereka  sengaja menunggu menanti metahari terbit. Tapi hari-hari berikutnya ketika akan kembali ke Yogyakarta, pemandangan yang serupa ternyata dijumpai di siang hari. Beberapa orang terlihat menikmati tidur siangnya di atas lantai dengan lembaran koran yang dihamparkan. Tas punggung yang cukup berisi dijadikannya bantal, tak peduli puluhan atau mungkin ratusan pasang kaki sudah melangkahi tubuhnya. Begitu nikmat sepertinya menunggu dengan cara seperti itu, tapi saya belum berfikir untuk melakukan hal yang sama.

Sementara yang lainnya memilih menunggu dengan  mendengarkan lagu. Sesekali sambil membaca koran. Lalu ada sosok wanita berkerudung melintas di depan mata. Berdiri entah mencari tempat duduk atau menunggu seseorang. Lama ia berdiri di depan saya, bergeser ke arah pintu, mengeluarkan ponselnya dan kembali berdiri menunggu.
 Lewat pukul 5 sore, pengumuman lewat pengeras suara yang memekikkan telinga mengabarkan jika boarding untuk penumpang kereta Senja Utama sudah dibuka. Saya segera meninggalkan ruang tunggu dan menuju sebuah pintu peron. Sesuai jadwal masih 1,5 jam sebenarnya kereta akan berangkat, tapi ternyata antrian penumpang yang hendak boarding sudah mengular hingga 2 lajur. Dari sini saya tahu bahwa mengantri boarding sebaiknya segera dilakukan. Selain untuk mengantisipasi antrian yang panjang, menunggu di dalam peron atau di dalam gerbong jika kereta sudah tersedia akan lebih nyaman dibanding menunggu di ruang tunggu yang tak seberapa luasnya.
Meski di dalam peron kerumunan penumpang juga tak kalah banyak. Apalagi kereta berangkat dari stasiun tersebut, maka bisa dipastikan hampir seluruh penumpangnya akan berkumpul di stasiun itu. Menarik mengamati warna-warni bawaan dan kebiasaan calon penumpang tersebut.
Tak berapa lama setelah menunggu di dalam peron, kereta pun datang, saya  memasuki sebuah gerbong, mencari tempat duduk sesuai nomor dan berusaha menyesuaikan diri dengan suasana gerbong, dengan dinginnya AC dan tempat duduk yang terlalu tegak. Beberapa menit kemudian, bertepatan dengan tenggelamnya senja, kereta Senja Utama berangkat meninggalkan Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA