Sabtu, 02 Mei 2015

Main Kartu Saat Pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan



Menjadi anak sekolahan, mulai dari saat harus rapi berseragam merah putih, lalu berganti biru putih lengkap dengan badge OSIS hingga saat berekspresi dengan pakaian putih abu-abu, adalah masa yang penuh kenangan. Banyak sekali peristiwa, menyenangkan maupun kurang mengenakkan yang kita alami di masa-masa itu. Saat di mana rambut tak boleh menutupi telinga, kaus kaki harus berwarna putih atau hitam, piket menghapus papan tulis harus dikerjakan hingga wajib membawa buku ajar dan LKS setiap hari. 


Periode menjadi anak sekolahan berseragam juga menjadi masa di mana kenakalan dan kepatuhan kita “diasah”. Seorang bisa terlihat dalam puncak kepatuhannya sebagai anak yang baik ketika berseragam sekolah. Sebaliknya riwayat kenakalan seseorang juga bertambah saat duduk di bangku sekolah.

Kalau ditanya apakah saya termasuk anak yang dominan nakal atau menonjol kepatuhannya, saya akan menjawab bahwa saya dan teman-teman sekelas pernah diskors karena ketahuan guru main kartu saat pelajaran di kelas.

Kejadiannya semasa duduk di bangku kelas 2 SMA. Sebenarnya kelas kami termasuk kelas yang disegani. Penyebabnya karena mulai dari Ketua OSIS hingga ketua regu peleton inti pasukan pengibar bendera semua ada di kelas kami. Anggota inti tim sepakbola sekolah serta beberapa murid dengan nilai terbaik juga berasal dari kelas kami. Tak mengherankan jika kelas kami langganan menjadi tempat “study tour” kelas lain, terutama saat musim ulangan. Murid-murid dari kelas tetangga mengharapkan bocoran dari kelas kami.

Tapi kelas kami juga dipenuhi aktivis permainan kartu. Entah darimana mulanya dan siapa yang memulai ajaran ini, hingga suatu ketika kami sudah menjadi sangat senang bermain kartu di dalam kelas. Saya sebut kami, karena tidak hanya satu atau dua orang saja yang melakukan aktivitas itu. Melainkan sudah sistemik hampir semua murid, tak peduli laki-laki ataupun wanita, termasuk yang tadinya alim sekalipun.

Begitu senangnya kami bermain kartu sampai-sampai hal itu dilakukan tak hanya di kala istirahat, tapi juga di saat pelajaran berlangsung. Bagaimana bisa?. Inilah hebatnya kelas kami. Dengan kemahiran dan pengetahuan sebagai aktivis organisasi dan kelas yang kebetulan kompak, kami memiliki cara hebat dalam bermain kartu hingga tak terendus guru.

Di kala istirahat, kami bermain kartu di dalam kelas. Pintu dibiarkan terbuka seperti biasanya, lalu murid-murid yang bermain duduk berkumpul menarik beberapa kursi untuk saling mendekat. Sementara itu murid-murid yang kebetulan duduk di depan kelas selalu memiliki “kesadaran” untuk menjadi penjaga di muka pintu kalau-kalau ada guru yang melintas. Maklum kelas kami letaknya cukup strategis. Selain dekat dengan laboratorium bahasa, juga berseberangan dengan kantin dan satu baris dengan ruang guru BK.

Seingat saya aksi bermain kartu di kala istirahat selalu berjalan aman. Meski gelak tawa keras kerap pecah setiap kali bermain kartu tapi kami tak pernah ketahuan guru. Begitu nyamannya bermain kartu sehingga murid-murid di kelas kami dikenal jarang keluar kelas di kala istirahat. Benar-benar murid yang rajin, begitulah pencitraannya.

Kebiasaan bermain kartu di kala istirahat berlanjut hingga pelajaran berlangsung. Inilah hal paling gila yang dilakukan kelas kami saat itu. Dengan menghafal kebiasaan cara mengajar guru, kami bisa tetap bermain kartu secara diam-diam. Pelajaran yang menjadi korban adalah pelajaran di mana sang guru lebih banyak bercerita sendiri dari kursinya atau lebih sering menulis dan berdiri tenang di depan papan tulis. Menurut memori saya, moment saat pelajaran Geografi, Bahasa Indonesia serta Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila (Pkn) adalah yang kerap menjadi korban kenakalan kami.

Cara kami bermain kartu saat pelajaran berlangsung sangatlah canggih dan berlangsung senyap. Tidak hanya melibatkan meja depan dan belakang, tapi murid-murid yang duduk di baris meja yang bersebarang juga bisa ikut berpartisipasi. Kartu-kartu dibagikan dengan perantara kurir, yakni murid yang tidak ikut bermain kartu tetap duduk berdekatan dengan sang pemain. Murid kurir itu bertugas menghantarkan kartu atau menunjukkan kartu apa yang dilemparkan oleh lawannya.

Aktivitas bermain kartu dilakukan dengan tatapan tetap tertuju ke papan tulis atau buku pelajaran. Sang guru pun tak menaruh curiga. Padahal andai beliau tahu, tangan-tangan muridnya sedang bersembunyi di dalam laci meja atau di bawah meja sambil memegang kartu. Ya, kartu digulirkan dengan berantai dari tangan ke tangan melalui bawah meja. Saat sang guru kebetulang menoleh ke belakang atau berjalan menyisir meja memeriksa pekerjaan muridnya, dengan tenang dan terampil tangan-tangan kami yang memegang kartu pun bergerak lancar memasukkan kartu ke dalam laci agar tak diketahui. Ketika sang guru kembali ke tempatnya, kami pun saling berpandangan sambil menahan tawa dan member isyarat: “lanjut!”. Benar-benar nakal kami waktu itu.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya ia akan jatuh juga. Secerdik apapun trik yang kami gunakan dalam bermain kartu di kelas saat pelajaran, akhirnya ketahuan juga.

Suatu hari ketika sedang pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan, kami kena batunya. Sebenarnya saat itu boleh dibilang jam kosong karena sang guru tidak masuk. Namun sudah menjadi kebiasaan di sekolah kami, saat ada pelajaran kosong maka murid akan mengerjakan tugas yang sudah dititipkan sebelumnya oleh sang guru. Hari itu kami ditugaskan untuk mengerjakan beberapa soal di LKS dengan pengawasan guru Geografi yang sedang mengajar di kelas sebelah. Jadilah saat itu sambil mengajar di kelas tetangga, Pak Guru Geografi sempat menjenguk kelas kami.

Pintu kelas akhirnya ditutup. Kami sepakat untuk tidak berisik agar dianggap hidmat mengerjakan tugas yang dipesankan. Sementara yang terjadi sebenarnya adalah sebuah olimpiade permainan kartu sedang berlangsung sengit di dalam kelas. Sebelum bermain kartu kami  sudah lebih dulu mengerjakan tugas tersebut. Soal pilihan ganda yang tak terlalu banyak jumlahnya dengan cepat kami kerjakan dengan menyontek satu sama lain.

Di dalam kelas beberapa murid bermain kartu dengan leluasa. Tak lagi dengan menyembunyikan tangan di bawah laci meja atau menggunakan kurir murid di dekatnya.

Ada sekitar 30 menit permainan kartu berlangsung sebelum akhirnya kami dikagetkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Murid-murid yang sedang duduk berkerumun di tengah buru-buru bubar kembali ke mejanya masing-masing. Beberapa ada yang sambil membawa kursi. Bersamaan dengan itu kartu-kartu dengan cepat dimasukkan ke dalam laci. Ada juga yang memasukkan ke dalam saku celana.

Tapi waktu antara terbukanya pintu dan kedatangan Pak Guru Geografi dengan kecepatan “beres-beres” kami terlalu pendek. Entah sejak kapan curiga dengan kenakalan kami, Pak Guru Geografi lalu berjalan menuju meja yang sebelumnya dijadikan arena utama permainan kartu. Kami yang sudah duduk manis di kursi masing-masing hanya bisa menatap cemas. Mungkin saat itu ada di antara kami ada yang merapal doa agar apa yang baru saja kami lakukan tidak ketahuan.

Tapi doa jelek tak pernah dikabulkan. Tanpa aba-aba Pak Guru Geografi memerintahkan teman kami untuk mengeluarkan apa disembunyikan di dalam laci meja. Seperti mendapat perintah tegas, teman kami pun mengambil kartu-kartu yang berserakan di dalam laci. Seketika kami semua menunduk. Pak Guru Geografi marah di depan kami. Tak lama memang, kurang dari 5 menit, tapi itu sudah cukup membuat wajah kami merah sementara mulut kami tersumpal diam.

Pak Guru Geografi akhirnya meninggalkan kelas kami dengan kesal. Kami pikir ini sudah selesai dan beliau kembali mengajar di kelas sebelah. Namun dugaan kami salah. Rupanya Pak Guru Geografi menuju ruang guru BK, ia mengadu. Ditinggal Pak Guru Geografi kami pun diceramahi Pak Guru BK. Malang bagi kami karena Guru BK selalu lebih galak dibanding Guru Geografi.

Usai dimarahi di dalam kelas, beberapa di antara kami dipanggil bergiliran ke dalam ruang Bimbingan dan Konseling untuk mencatatkan nama kami sendiri di buku catatan khusus. Kelas kami pun mendapat hukuman skorsing.

Kami beruntung karena bukan skorsing dilarang masuk sekolah melainkan diwajibkan belajar mandiri di dalam kelas sambil merenungi perbuatan kami. Jadi sepanjang sisa hari itu di sekolah, tidak ada guru yang masuk ke kelas kami untuk mengajar. Kami dibiarkan duduk manis kebingungan harus belajar apa. Kami juga  tidak memilih untuk mengulangi bermain kartu. Meski selama bermain kartu kami tak pernah menggunakan taruhan apapun, tapi seketika itu kami sudah jera dan sadar untuk tidak bermain kartu di sekolah.

Hari berganti, dari mulut ke mulut akhirnya semua guru tahu kenakalan kelas kami. Beberapa guru bahkan mencandai kami di depan kelas sebelum memulai pelajarannya. Meski candaan itu lucu dan mengundang tawa, tapi kami terlanjur malu.

Bukan hanya guru, hampir semua murid di sekolah akhirnya juga mengetahui perihal perbuatan kelas kami. Namun itu tak membuat kelas lain menjauhi kami. Semua biasa saja, teman-teman tetap berdatangan ke kelas kami untuk ngobrol di kala istirahat dan mencari bocoran jawaban dari murid-murid pintar di kelas kami. Kelas kami tetap disegani.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA