Selasa, 05 April 2016

Terpesona Keindahan Pantai Lakban di Ratatotok Timur



Hening dan tenang. Itulah yang saya dapati ketika melewati gerbang masuk Pantai Lakban di Ratatotok Timur, Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara, pada Jumat (1/4/2016). Tak ada pengunjung yang tertangkap oleh pandangan mata kecuali lima rekan yang memilih singgah di ujung pantai dekat gerbang masuk. Belasan warung di pinggir pantai yang coba saya tengok juga kosong tanpa ada yang menunggu dan tak terlihat ada barang dagangan.  
  
Pantai Lakban di Ratatotok Timur, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara (dok. Hendra Wardhana).
Pantai Lakban yang  mulai dikembangkan pada 1999 oleh PT. Newmont Minahasa Raya (PTNMR) ini memang indah dan bersih. Setelah melewati gerbang masuknya yang berbentuk gapura, langkah kaki akan berlanjut menapaki jembatan kayu bercat merah. Dari salah satu sisi jembatan tampak deretan mangrove dengan akar-akar yang jangkung dan kokoh. Sementara dari di sisi yang lainnya terlihat samudera Lakban dan hamparan pasir coklat yang membatasi garis pantai. 
 
Pohon kelapa berbaris di tepi pantai (dok. Hendra Wardhana).
Sekitar 5 meter dari bawah jembatan terdapat perahu yang ditambatkan di atas pasir. Meski terlihat masih bagus, perahu tersebut sepertinya sudah lama tidak digunakan dan sengaja dijadikan monumen. Tak jauh dari gapura dan jembatan, ada sebuah panggung terbuka berbentuk bulat dengan tempat duduk bertingkat mengelilinginya. Pada waktu-waktu tertentu panggung ini digunakan sebagai tempat pementasan budaya dan kesenian.
 
Gerbang masuk Pantai Lakban (dok. Hendra Wardhana).
Hutan Mangrove di Pantai Lakban (dok. Hendra Wardhana).

Berada di Pantai Lakban saat sepi seperti berada di pantai pribadi. Di sepanjang pantai barisan pohon kelapa teduh memanyungi. Bangku dari kayu dan semen yang ada di bawahnya menjadi tempat terbaik untuk menikmati sepotong surga Lakban. Angin yang berhembus pelan tanpa henti terasa menenangkan. Debur dan riak ombak yang sedikit berisik menjadi hiburan tambahan. Arus yang tenang dan bias sinar yang menembus dasar pantai yang dangkal juga sedap dipandang. Meski arusnya terlihat tenang namun tak jauh dari bibir pantai rupanya terdapat papan kecil bertuliskan peringatan dan larangan berenang. 

Perahu tertambat di atas pasir menjadi monumen di Pantai Lakban (dok. Hendra Wardhana).
Meski ada larangan berenang namun sejumlah orang tetap melakukannya krena papan peringatan yang terlalu kecil (dok. Hendra Wardhana).
Pantai Lakban dilihat dari Bukit Harapan (dok. Hendra Wardhana).

Lalu apa yang membuat tempat seindah ini sepi?. Mungkin karena letaknya yang jauh dari kota Minahasa Tenggara. Apalagi dari Manado yang membutuhkan waktu 3-4 jam untuk sampai di Pantai Lakban. Itupun perlu berganti kendaraan karena belum ada angkutan umum dengan rute langsung menuju ke Ratatotok. Jika menggunakan taksi dari Manado tentu menghabiskan banyak ongkos dan itu bukan pilihan yang menyenangkan. Pilihan termudah mungkin menyewa mobil lalu melanjutkan dengan bentor, sebuah “kendaraan hybrid” antara becak dan sepeda motor. Padahal, jika para pemangku kepentingan tanggap menangkap permasalahan ini dan bisa mengatasinya, disertai promosi yang baik, keindahan Pantai Lakban bisa menarik perhatian banyak orang.


1 komentar:

Cerita Populer

BERANDA