Rabu, 28 September 2016

Melihat Batik Indonesia yang Berbeda di Yogyakarta



Ruangan di lantai satu Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Jumat (21/6/2013) sore itu berbeda dari hari-hari biasa. Suasana di dalamnya terlihat manis dipenuhi lembaran kain serupa lukisan dengan aneka rupa dan sapuan warna. Ukurannya pun beragam, mulai dari yang kecil menempel di dinding, hingga yang besar digantung pada langit-langit ruang.
Lukisan Batik yang menggambarkan keindahan Indonesia dengan aneka tumbuhan berbunga dan kupu-kupu.
Gambar-gambar itu bukanlah lukisan biasa di atas kanvas. Melainkan lukisan yang dibuat dengan cara membatik di atas kain dengan perpaduan beberapa media lukis. Beberapa di antaranya juga diwarnai dengan cara dicelup layaknya kain batik. Semua lukisan batik tersebut merupakan karya para seniman lukis dan batik di Yogyakarta.

Salah satu lukisan yang menarik berjudul “Generasi Bangsa” karya Beni Rismanto. Pada kain berukuran 200x100 cm, tergambar wujud seorang anak manusia yang tersenyum dengan posisi tubuh merebah miring. Latarnya berupa motif batik konvensional yang dibuat secara penuh. Terlihat pula garis-garis tipis yang bersambungan membentuk peta kepulauan Indonesia bertumpuk dengan lukisan sang bocah. 
Lukisan Batik "Generasi Bangsa" karya Beni Rismanto.
Lukisan Batik "Nyi Roro Kidul" karya Keman Mudjido.
Selanjutnya lukisan berjudul “Nyi Roro Kidul” yang dibuat oleh Keman Mudjido. Didominasi warna merah dan oranye, Nyi Roro Kidul dihadirkan dalam sosok seorang wanita di dalam lautan yang dipenuhi ikan. Bersamanya terlihat seekor ular besar.

Ada pula karya lukis “Kampung Taman Sari” milik Eko Hadi pada selembar kain berukuran 90x150 cm. Goresannya terlihat sederhana seperti sketsa hitam putih. Meskipun demikian, lukisan batik tersebut terlihat detail menggambarkan wujud kampung Taman Sari Yogyakarta di masa lampau.

Lukisan memikat lainnya adalah karya Mahyar Suryawan yang berjudul “Kehidupan Nelayan”. Lukisan  berukuran 150x45 cm ini menggambarkan keseharian nelayan Indonesia saat melaut menggunakan perahu hingga menjual hasil tangkapannya ke pasar.  Obyeknya disusun dalam beberapa kotak berwarna gelap dan terang. Terlihat juga bentuk pepohonan yang menggambarkan alam pantai Indonesia.
Lukisan Batik "Kehidupan Nelayan" karya Mahyar Suryawan.
Lukisan Batik "Kampung Taman Sari" karya Eko Hadi.
Di antara banyak lukisan batik yang dipamerkan, “Gunung Merapi” karya Bj. Arifin mungkin yang paling menarik. Secara umum lukisan berdimensi 185x110 cm ini dibentuk oleh goresan-goresan berwarna hitam yang terlihat sederhana namun memiliki energi cerita yang hidup. Tulisan berbunyi “amanah HBIX” dan “Bah Marijan” tergores di dalamnya. Lukisan batik ini menggambarkan Mbah Maridjan dalam sosok wayang yang sedang bersimpuh seolah-seolah menyembah gunung. Sikap ini bisa dimaknai sebagai bentuk ketaatan dan tanggung jawab Mbah Maridjan atas amanah yang diterimanya dari Sultan Hamengku Buwono IX untuk menjaga gunung merapi.  Sikap tersebut juga wujud kerendahan hati seorang makhluk Tuhan yang menjaga alam tempatnya hidup.
Lukisan Batik "Gunung Merapi" karya Bj. Arifin.

Tidak hanya lukisan batik, di Yogyakarta juga ada bentuk kerajinan lain yang terpapar keindahan batik. Jika tak percaya datanglah ke Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul. Daerah tersebut dikenal sebagai sentra batik kayu.

Batik kayu di Dusun Krebet dibuat dengan cara yang hampir sama dengan membuat batik tulis di atas kain menggunakan canting dan malam. Bedanya, motif batik dilukis langsung di atas kayu yang telah diampelas dan dibentuk terlebih dahulu. Pewarnaan batik kayu pun dilakukan dengan pencelupan. Namun, pewarna yang digunakan adalah naftol karena kayu susah menyerap pewarna alami.

Supriyanto dan salah satu produk batik kayunya.
Menurut Supriyanto, salah satu pengrajin batik kayu yang saya temui beberapa waktu lalu, di Dusun Krebet ada sekitar 33 rumah usaha batik kayu. Para pekerjanya umumnya kaum wanita yang memang dikenal lebih terampil dan ulet dalam hal membatik. 

Supriyanto juga menuturkan, batik kayu di daerahnya berkembang dari kebiasaan masyarakatnya yang dahulu menekuni pembuatan batik tulis. Karena usaha batik tulis mengalami pasang surut, beberapa orang lalu mencoba berkreasi dengan membatik di atas wayang klitik. Tak disangka hasilnya cukup baik sehingga kemudian muncul bentuk batik kayu lainnya seperti topeng, patung, nampan, kotak perhiasan, gelang, hingga permainan catur dan ular tangga.

Berkat keunikannya, batik kayu asal Dusun Krebet kini tidak hanya diminati oleh pasar lokal dan nasional. Supriyanto bahkan sering mendapat pesanan batik kayu dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Belanda, dan Australia.

***
Lukisan Batik dan Batik Kayu yang lahir dari pemilik tangan-tangan kreatif di Yogyakarta menunjukkan bahwa batik telah sangat  berkembang. Batik bukan lagi sekadar kain yang digunakan sebagai sandangan badan atau bahan yang diaplikasikan pada produk tas, topi, sarung bantal, sprei dan dompet. Batik beserta proses penciptaannya yang sarat makna juga menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan  karya seni yang berbeda namun sama-sama istimewa.
Produk batik kayu berupa topeng dan mangkuk buatan pengrajin di Dusun Krebet.
Batik Kayu dibuat dengan membatik secara langsung di atas kayu menggunakan canting dan malam.

Tapi, apakah hadirnya berbagai produk dan karya seni yang mengadopsi batik tidak mengancam eksistensi batik sebagai warisan adiluhung?. Tentu saja tidak. Inovasi yang lahir dari batik semestinya tidak dianggap sebagai penyimpangan yang diratapi. Sebaliknya, justru harus disyukuri karena membuktikan bahwa batik sebagai hasil kebudayaan memiliki kekuatan dan pengaruh untuk menginspirasi.

Selain itu, batik memang sudah saatnya berkembang mengikuti zaman. Bukan berarti takluk pada zaman atau pasar, tetapi batik harus didorong untuk menjadi bagian dari industri kreatif modern. Lagipula perkembangan batik bukan sesuatu yang baru terjadi saat ini. Dahulu eksistensi batik terbatas pada simbol-simbol keraton yang sakral. Seiring waktu batik pun menjadi entitas yang dimiliki bersama.
Berbagai produk kreasi dan inovasi yang terpapar batik memberikan manfaat ganda bagi pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.
Oleh karena itu, lahirnya kreasi dan inovasi yang terpapar batik adalah sebuah keniscayaan yang harus dirayakan karena mendatangkan manfaat ganda bagi upaya pelestarian serta pengembangan batik. Dengan semakin banyaknya orang yang meletakkan hati dan pikirannya pada batik, eksistensi serta originalitas batik sebagi kain nusantara akan tetap terjaga. Pada saat yang sama, bentuk kreasi seperti Lukisan Batik dan Batik Kayu menjadi media yang kuat untuk terus memasyaratkan sekaligus melestarikan nilai-nilai luhur yang ada dalam batik Indonesia. Bukankah itu yang kita inginkan?.


Teks dan foto: Hendra Wardhana

6 komentar:

  1. Keren tulisannya. Sukses mas

    BalasHapus
  2. Di Yogyakarta ternyata masih sangat kental pelestarian batiknya.

    http://nusantaraholic.blogspot.co.id/2016/10/batikindonesia-inovasi-digitalisasi_4.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah salah satu alasan mengapa Yogyakarta menjadi kota batik dunia

      Hapus
  3. Pernah belajar di pak mahyar, karya lukisan batik aliran kubisme nya sungguh keren2.

    http://kondompria.com

    BalasHapus

Cerita Populer

BERANDA