Jumat, 21 Oktober 2016

Menggapai Asa Berjaya dengan Mutiara Laut Selatan



Menjadi poros maritim dunia. Itulah cita-cita yang sedang berusaha digapai oleh Indonesia saat ini. Harapan yang tidak berlebihan karena Indonesia memiliki modal untuk mewujudkannya. Syaratnya Indonesia harus mampu memanfaatkan serta mengelola setiap sumber daya alam dan potensi bahari yang dimiliki.
Mutiara Laut Selatan Indonesia atau Indonesian South Sea Pearl
Salah satu yang potensial sebagai komoditi unggulan adalah mutiara. Indonesia merupakan penghasil utama Mutiara Laut Selatan atau Indonesian South Sea Pearl yang berasal dari spesies kerang Pinctada maxima.  Selain mutiara laut selatan, jenis mutiara lain yang dominan di dunia adalah mutiara hitam, mutiara Akoya, dan mutiara air tawar Tiongkok. Namun, mutiara laut selatan memiliki kualitas terbaik. Kilaunya sangat indah dengan warna perak dan keemasan yang memikat. Ukurannya bisa mencapai 10-20 mm dan bentuknya hampir bulat sempurna. Karena karakternya yang istimewa Indonesian South Sea Pearl dijuluki Queen of Pearl dan dianggap sebagai puncak kesempurnaan mutiara. Setiap butirnya dihargai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Kerang Pinctada maxima penghasil mutiara laut selatan (sumber: Instagram indonesianpearlfestival2016).
Menurut data yang dihimpun dari beberapa sumber, termasuk Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian, nilai ekspor Indonesian South Sea Pearl meningkat dari 25,8 juta USD pada 2013 menjadi 31,2 juta USD pada 2015. Akan tetapi, nilai itu masih jauh dari total perdagangan mutiara dunia yang mencapai 1,5 miliar USD. Produksi mutiara laut selatan Indonesia juga masih kalah dibandingkan mutiara air tawar Tiongkok yang dibudidayakan secara besar-besaran.

Meskipun demikian, peluang untuk memaksimalkan potensi Indonesian South Sea Pearl cukup besar. Mutiara laut selatan dari Indonesia sejak lama diminati oleh beberapa negara seperti Korea Selatan, Hongkong, Filipina, Jepang, Australia, dan Singapura. Indonesia juga memiliki banyak wilayah perairan laut tenang yang menjadi rumah sekaligus habitat ideal Pinctada maxima.  Perairan laut di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua berpotensi memproduksi mutiara laut selatan antara 2 hingga 6 ton per tahun setiap daerah.
Potensi beberapa daerah di Indonesia sebagai penghasil mutiara laut selatan.
Pencanangan poros maritim dunia adalah momentum untuk mengembangkan industri mutiara laut selatan karena menjanjikan devisa negara sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Pemerintah pun sudah seharusnya memberi dukungan sekaligus untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang ada.

Pertama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan jumlah dan kapasitas sumber daya manusia untuk mengangkat produksi serta kualitas mutiara laut selatan. Saat ini industri mutiara laut selatan di Indonesia melibatkan sekitar 66 perusahaan swasta nasional, 9 penanaman modal asing, dan 13 penanaman modal dalam negeri yang menjalankan budidaya, penjualan eceran hingga ekspor. Selain itu, ada sekitar 5000 usaha kecil penghasil benih mutiara.

Jumlah tersebut masih terlalu sedikit dibandingkan potensi yang ada.  Oleh karena itu, pemerintah perlu memberi kemudahan dan insentif bagi masyarakat atau pengusaha yang ingin membangun bisnis budidaya mutiara. Keringanan pajak, menghilangkan pungli, memperbaiki infrastruktur akan meningkatkan gairah pengusaha untuk mengembangkan industri mutiara laut selatan. Pembudidaya mutiara perlu dibekali dengan pengetahuan dan teknik yang lebih baik. Salah satunya melalui penguatan dan pemberdayaan asosiasi pembudidaya mutiara. Potensi mutiara laut selatan juga perlu ditekankan dalam kurikulum sekolah kejuruan bidang kelautan untuk menumbuhkan minat generasi muda. 
Indonesia adalah penghasil utama mutiara laut selatan (diambil dari Instagram indonesianpearlfestival2016).
Kedua, solusi pendanaan sangat dibutuhkan karena industri ini membutuhkan biaya dan investasi yang besar. Sementara budidaya mutiara dianggap memiliki resiko kegagalan yang tinggi sehingga bank kurang tertarik menyalurkan kredit. Pemerintah diharapkan dapat berperan dalam mengatasi hambatan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satunya dengan memberikan bantuan teknis berupa ahli pendamping yang mampu menjelaskan budidaya mutiara secara detail agar bank percaya untuk menyalurkan kredit kepada pembudidaya dan pengusaha mutiara laut selatan.

Tantangan ketiga adalah meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi mutiara laut selatan. Dibandingkan kerang air tawar yang dapat menghasilkan 10 mutiara dalam waktu 6 bulan masa panen, Pinctada maxima hanya menghasilkan  1 butir mutiara dalam waktu yang lebih lama. Di sisi lain budidaya mutiara laut selatan banyak dilakukan dengan memadukan cara tradisional dan teknik modern. Oleh karena itu, penelitian untuk mengembangkan teknologi budidaya yang meliputi optimalisasi pakan, benih, habitat, dan memperpendek jarak masa panen, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta kualitas mutiara laut selatan.

Keempat, Indonesia perlu memiliki strategi dan rencana pengembangan mutiara laut selatan yang komprehensif. Hal ini bisa dimulai dengan menentukan prioritas kawasan budidaya. Dari beberapa wilayah yang potensial sebagai lumbung produksi, perlu ditentukan satu atau beberapa kawasan unggulan agar pengembangannya lebih fokus. Seiring dengan meningkatnya produksi, standar mutu yang baik perlu diberlakukan untuk menjamin kualitas mutiara laut selatan Indonesia sekaligus melindunginya dari serbuan mutiara air tawar Tiongkok yang membanjiri pasar.
Perairan laut yang tenang dengan dasar berpasir seperti di Sumbawa Barat, NTB ini cocok untuk budidaya Mutiara Laut Selatan (dok. Hendra Wardhana).
Selanjutnya, mengatur zona budidaya karena perairan laut yang tenang juga cocok untuk beberapa komoditi selain mutiara. Sementara budidaya Pinctada maxima tidak bisa digabung dengan budidaya lainnya. Selain itu, zona budidaya berguna untuk mencegah aktivitas pelayaran atau penangkapan ikan yang mengganggu budidaya Pinctada maxima. Pada saat yang sama pemerintah harus menetapkan prosedur pengendalian dan pemanfaatan sumberdaya mutiara yang selaras dengan upaya pelestarian alam. Hal ini penting untuk mewujudkan pengelolaan mutiara laut selatan yang berkelanjutan.

Selain beberapa hal di atas, peran masyarakat juga sangat diharapkan dalam pengembangan mutiara laut selatan. Di tengah serbuan mutiara dari negara lain yang harganya lebih murah, kecintaan terhadap produk dalam negeri akan menentukan kemajuan industri mutiara laut selatan di masa depan

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Cerita Populer

BERANDA