Rabu, 12 Oktober 2016

SUCA 2: Transformasi Kompetisi Stand Up Comedy Modern yang Mencipta Sejarah




“Gue jemurin satu jatuh, jemur satu jatuh. Talinya nggak gue pasang!”. Kalimat tersebut terlontar dari seorang gadis berusia 19 tahun di atas panggung Stand Up Comedy Academy (SUCA) Indosiar musim 2. Sepintas tak ada yang istimewa dari lontaran kalimatnya. Tapi jika menonton aksinya malam itu, juga reaksi yang muncul dari para juri serta penonton, bahkan diikuti dengan trending topic di media sosial selama belasan jam, tak disangkal ia memang fenomenal.

Arafah Rianti seketika menjadi gadis manis kesayangan penonton TV Indonesia, khususnya penggemar stand up comedy. Keikutsertaannya dalam kompetisi SUCA 2 mengingatkan kita pada Musdalifah yang menggebrak panggung SUCA 1. Akan tetapi meski “kemasannya” hampir serupa, yakni imut, lucu dan berkerudung, Arafah mencuri perhatian dengan karakternya sendiri.
Stand Up Comedy Academy (SUCA) musim ke-2 (sumber @standupacademy).
***

Arafah hanyalah satu dari sederet keseruan kompetisi SUCA 2 yang mulai ditayangkan Indosiar pada 25 Juli 2016 dan berakhir pada grand final, 9 September 2016. SUCA 2 memanggungkan 42 komika, jumlah yang cukup banyak untuk sebuah program kompetisi di TV. Tiga di antara komika tersebut adalah wanita yang usianya relatif muda, yaitu Arafah, Aci Resti, dan Qoqom.

Meneruskan kesuksesan SUCA 1 yang melambungkan pamor stand up comedy di Indonesia, SUCA 2 mengusung format yang sama dengan edisi sebelumnya. Para komika dibagi ke dalam grup mentor yang juga tak berubah, yaitu Daned Gustama, Mosidik, Isman, Gilang Bhaskara, dan Arief Didu yang pada musim 1 berperan sebagai supervisor. Posisi host reguler pun masih menjadi milik Andhika Pratama, Gading Marten, dan Uus. Selain mereka, ada Rina Nose dan Gilang Dirga yang hadir di beberapa episode.

Babak eliminasi dilakukan secara simultan pada setiap grup sehingga SUCA 2 tayang hampir setiap hari dalam seminggu. Tayang secara maraton terbukti berhasil menguatkan kesan penonton serta masyarakat terhadap SUCA. Apalagi SUCA 2 menempati slot prime time Indosiar yang jangkauan siarnya sangat luas.

Eliminasi untuk menentukan komika yang gantung mic dilakukan oleh lima orang juri. Selain Abdel, Raditya Dika, Ernest, dan Pandji yang paling sering mengisi line up juri, nama Luna Maya, Melanie Ricardo, Babe Cabita, Ge Pamungkas, dan Jarwo Kuat juga beberapa kali hadir. Bahkan, di awal kompetisi ada Maya Septa dan Hanah Al Rasyid ikut melengkapi formasi juri.


Lebih Atraktif
Menampilkan 42 komika membuat persaingan SUCA 2 lebih seru dan kontestasi berlangsung atraktif. Apalagi, di antara komika tersebut ada beberapa nama yang sudah cukup dikenal di komunitas maupun panggung profesional seperti Wawan, Coky Pardede, Saktiwawan, Ari Rante, dan Arif Alfiansyah. Kemudian ada jebolan kompetisi stand up comedy lain seperti Gian, Tomy Baba, dan Afif Xavi. SUCA 2 juga berhasil mengangkat komika yang jarang terdengar sebelumnya seperti Ical, Syamsuri, Aci, Anyun, Arafah, Boy Laode, dan Raim Laode.

Mentor dan Komika peserta SUCA 2 (diolah dari @standupacademy).
 
Panggung SUCA 2 bertambah atraktif karena ada beberapa komika yang menggunakan properti seperti alat musik dan trick sulap untuk membangun personanya. Ada juga komika bernama Fachry yang berprosfesi sebagai polisi sehingga atribut kedinasannya sering melekat saat ia tampil. Selain itu, juri lebih banyak memberikan tantangan teknik stand up kepada para komika selama berkompetisi.

Banyaknya kejutan yang terjadi sejak eliminasi pertama membuat SUCA 2 semakin menarik. Beberapa komika tak diduga mampu tampil lebih baik dibanding komika lain yang lebih berpengalaman. Sebut saja Boy Laode dan Raim Laode. Dua kakak beradik asal Wakatobi ini langsung mendapat pujian dari juri sejak minggu pertama. Bahkan, belum lama kompetisi berlangsung, Raim dijagokan oleh Raditya Dika dan Ernest sebagai calon kuat juara.

Begitu pula dengan komika cadel bernama Anyun yang mengangkat “kelemahan” dirinya dalam berbicara sebagai modal untuk menciptakan tawa. Sayangnya, ia kurang berhasil mengembangkan tema-tema baru sehingga penampilannya cenderung stagnan dan membosankan. Bahkan saat mendapatkan kesempatan kedua setelah gantung mic, ia tetap belum mampu memenuhi tuntutan dan tekanan kompetisi.

Tekanan kompetisi pula yang akhirnya membuat sejumlah komika harus gantung mic lebih awal. Seperti yang dialami oleh Ical saat “blank” membawakan materi sehingga hanya tampil selama 2 menit. Hal itu membuatnya langsung terlempar dari kompetisi meski sebelumnya digadang-gadang mampu melaju ke final.

Inkonsistensi dalam membawakan materi secara kuat dan kurang percaya diri menjadi persoalan berikutnya. Beberapa komika yang menggebrak di babak awal lalu menurun di penampilan berikutnya. Boy La Ode  adalah salah satu  yang mengalami hal itu. Setelah melejit di dua penampilan pertama, kepercayaan dirinya justru merosot di saat kompetisi semakin ketat. Ia pun tak mampu bersaing lebih jauh lagi.


Memiliki jam terbang dan berpengalaman di komunitas ternyata juga tak menjamin komika mampu bertahan lama di panggung SUCA 2. Coki Pardede, Ari Rante, Gian, dan Anto Bangor harus menerima kenyataan kalah dari para junior mereka. Padahal, mereka diprediksi akan melangkah jauh karena tampil menonjol di babak-babak awal.

Raim Laode, meski gagal menjadi juara namun ia diyakini sebagai calon komika besar di Indonesia (sumber: vidio.com).

Namun, terlemparnya Afif dan Raim dari persaingan menuju juara mungkin menjadi moment gantung mic yang paling mengejutkan sepanjang kompetisi SUCA 2. Kegagalan mereka pun menjadi perbincangan di media sosial terutama twitter. Afif adalah komika yangmatang dan memiliki karakter  kuat. Materi stand up nya sering sukses mengundang tawa. Namun, ia tersingkir saat grand final tinggal menghitung hari. Keputusan juri yang mengeliminasi dirinya pun sempat disesalkan oleh beberapa pendukungnya di media sosial.

Juri sepertinya mempertimbangkan faktor ketidakhadiran Afif secara langsung di atas panggung. Saat itu Afif memang hanya tampil melalui video yang direkam sebelumnya karena sedang sakit. Bagaimanapun tampil langsung di depan penonton memberikan tekanan yang berbeda dan lebih fair terhadap peserta lainnya. Selain itu, materi yang dibawakan Afif dianggap kurang sesuai dengan tema tantangan yang diberikan oleh juri meski penampilannya lumayan lucu.

Lain Afif, lain pula dengan Raim. Sepanjang kompetisi berlangsung boleh dikatakan namanya ada di daftar terdepan calon kuat juara. Pilihannya mengangkat kehidupan lokal masyarakat Wakatobi berhasil menghadirkan kelucuan. Raim juga mahir menggali tema-tema baru yang segar. Selain itu, ia memiliki gaya stand up yang kuat dan original. Cara penyampaiannya pun menarik. Raditya Dika dan Mosidik sempat tak percaya ada komika asal daerah yang memiliki kemampuan stand up sebaik Raim.

Akan tetapi, secara mengejutkan Raim harus gantung mic di saat grand final sudah di depan mata. Ia tersisih di babak 4 besar atau eliminasi terakhir menjelang grand final. Penampilannya saat itu memang sedikit menurun. Ia terlihat kurang yakin menyampaikan materi stand up nya. Sialnya, di saat yang sama tiga pesaingnya justru mampu mempertahankan performa. Raim pun harus berbesar hati memupus mimpinya menjadi juara SUCA 2.



Ciptakan Sejarah
Gugurnya sejumlah komika berpengalaman dan beberapa unggulan membuat tiga nama yang lain berhasil menapaki babak puncak SUCA 2. Mereka adalah Wawan, Arafah, dan Aci Resti. Grand final pun menjadi pertarungan kuda hitam karena dari ketiga nama tersebut hanya Arafah yang telah mencuri perhatian sejak awal kompetisi.

Arafah yang fenomenal (sumber: @standupacademy).

Arafah melejit berkat kecerdasannya melontarkan materi-materi absurd yang tak terduga. Kepandaiannya memilih analogi berhasil meledakkan tawa banyak orang. Contohnya saat ia melontarkan joke mesin cuci main hp, pacar baru dan henpon baru serta permen kaki yang disepatuin. Arafah juga membuat panggung SUCA 2 bergetar saat menyampaikan materi tentang jemuran yang jatuh karena talinya tidak dipasang dan pinggang yang berbunyi krutuk-krutuk karena dipatuk ayam. Jangan lupakan pula celetukannya sebagai penjaga rental PS di rumah.

Meski penampilannya sempat naik turun, namun sense of comedy yang tinggi mampu membawa Arafah terus melangkah. Di babak grand final ia pun tampil baik. Arafah mengangkat keresahannya yang dilatarbelakangi perasaan iri kepada Raditya Dika dan Aci Resti. Berkat penampilannya itu gelar juara 2 berhasil disandangnya. Sebagai komika yang baru enam bulan menekuni stand up comedy, pencapaian Arafah cukup fenomenal.

Juara 3 menjadi milik Wawan, satu-satunya “komika senior” yang mampu menapaki babak akhir. Kelebihannya menyusun materi secara rapi dengan tema beragam membuatnya melangkah jauh. Meski tak terlalu sering menghadirkan kejutan yang luar biasa, namun penampilannya juga tak pernah turun secara drastis. Boleh dikatakan ia tampil konsisten dan aman sepanjang kompetisi.

Sementara itu, lolosnya Aci hingga grand final sebenarnya agak di luar dugaan karena di babak-babak awal penampilannya kurang meyakinkan. Saat itu sinarnya masih tak seterang Arafah ataupun Raim. Namun, secara perlahan ia melesat di saat para komika lain mulai kebahisan energi. Bahkan, penampilan Aci semakin agresif memasuki babak 13 besar.  Sejak saat itulah namanya mulai diperhitungkan sebagai kandidat juara. Ia pun sering mendapat standing ovation dari  juri dan mentor.
Aci Resti menjadi yang terbaik di panggung SUCA 2 (sumber: @standupacademy).

Kemajuan Aci memang paling menonjol dibanding semua komika peserta SUCA 2. Gaya bicaranya yang lugas dan spontan menjadi salah satu kelebihannya. Keresahannya banyak digali dari kehidupan sehari-hari dan pengalaman di dalam keluarga. Salah satu materi paling lucu yang ia bawakan adalah saat menceritakan pengalamannya diajak kondangan oleh sang ayah. Ia menggunakan pakaian dengan banyak saku agar bisa membawa pulang banyak makanan. Ia juga disuapi banyak makanan meskipun tidak sedang ingin makan. Puncak penampilannya ditutup secara sempurna di grand final. Aci membawakan materi seputar pengalamannya diberi hadiah motor oleh Raditya Dika. Ia pun menyelipkan kisah ayahnya yang tidur di atas ubin baru. Hampir semua bagian ceritanya berhasil mengundang tawa dan tepuk riuh.

Aci Resti akhirnya berhasil menjadi yang terbaik. Predikat juara 1 SUCA 2 menjadi milik gadis berkaca mata yang gemar menggunakan topi ini. Bahkan, namanya tercatat sebagai komika wanita pertama yang menjuarai kompetisi stand up comedy skala nasional di Indonesia. Sejarah  tercipta di panggung SUCA 2.


Melebihi Kompetisi
Sejak musim pertama SUCA mengusung gaya dan konsep yang berbeda dengan kompetisi stand up comedy lainnya. Jika selama ini kompetisi stand up comedy atau open mic identik dengan one man show, maka SUCA lebih dari itu.

Selain memanggungkan para komika yang berkompetisi, SUCA juga menghidupkan interaksi di antara semua yang terlibat di atas panggung. Line up SUCA tidak hanya komika peserta, tetapi juga juri, mentor, host dan penonton yang bersama-sama membangun “grrrrrr….”. Oleh karena itu, SUCA sebenarnya lebih dari sekadar kompetisi. Tetapi telah menjadi sebuah pertunjukkan.

SUCA tidak semata-mata dibuat berbeda dengan kompetisi serupa atau panggung sejenisnya yang telah ada sebelumnya. Jika dicermati, pada musim keduanya SUCA ingin menegaskan kembali bahwa humor atau komedi sebenarnya bagian dari budaya yang telah lama memasyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, SUCA mengusung gaya kompetisi sekaligus pertunjukkan yang bersifat inklusif. 

Inklusifnya panggung SUCA  tak hanya dilihat dari  latar belakang peserta yang beragam. SUCA  juga menepis dikotomi di antara para pelaku stand up comedy. Itulah mengapa Pandji yang sebelumnya menjadi juri tetap di acara serupa bisa nyaman tampil di SUCA 1 dan 2. Begitu pun dengan juara-juara ajang stand up comedy di tempat lain yang menjadi pengisi dan bintang tamu di SUCA.
Kompetisi SUCA 2 jadi panggung "silaturahmi" (sumber : twitter Andika Pratama).
Pada saat yang sama, kritik yang menyebutkan SUCA 2 banyak menampilkan gimmick di luar materi stand up mulai dipahami. Humor di televisi mau tidak mau perlu memperhatikan selera masyarakat. Gaya industri televisi suka tidak suka mempengaruhi gaya kompetisi stand up comedy. Yang penting panggung tersebut tidak memasung identitas dan kebebasan para pengisinya.

Harus diakui bahwa SUCA, terutama di musim keduanya, telah menjadi bagian dari budaya stand up comedy modern di Indonesia.  Dari hanya sebuah kompetisi, lalu menjadi bisnis pertunjukkan, dan kini SUCA 2 bertransformasi menjadi wadah pertemuan, pembelajaran serta apresiasi antar pelaku dunia stand up comedy. Penonton, penikmat, komika, dan kontestan akhirnya sama-sama terhibur. Bukankah ini yang kita inginkan?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA