Senin, 10 Oktober 2016

Yogyakarta dan Cintanya Pada Batik Indonesia



Yogyakarta dan batik, keduanya tak bisa dipisahkan. Meski budaya membatik tumbuh hampir di banyak daerah di Nusantara, namun Yogyakarta lah yang dianggap sebagai episentrum batik Indonesia. Bahkan, kini dunia menatapnya sebagai salah satu jantung kerajinan paling mempesona. Badan Kerajinan Dunia atau World Craft Council (WCC) telah menobatkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia (The World’s Batik City)  pada ulang tahun WCC ke-50 di Tiongkok pada 18-24 Oktober 2014.   
Sebanyak 3000 anggota masyarakat Yogyakarta membatik secara massal pada kain sepanjang 3005 meter tanpa putus. Kegiatan ini berlangsung pada 2 Oktober 2014 di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta (dok. pri).
Predikat Kota Batik Dunia pantas disandang oleh Yogyakarta. Selain menjadi pusat batik yang memiliki banyak perajin batik, Yogyakarta juga mewarisi jejak sejarah dan perkembangan batik di Indonesia. Kota budaya ini memiliki daya yang tak terbatas dalam mempertahankan tradisi serta keaslian batik sekaligus mendorong lahirnya inovasi-inovasi yang bergerak maju seiring zaman. Kedua hal itu, orisinalitas (tradisi) dan inovasi bergerak bersamaan tanpa saling meniadakan.

Yogyakarta tak pernah kehabisan energi dan cinta agar batik selalu ada dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Cara paling sederhana untuk menangkap besarnya energi dan cinta tersebut adalah dengan datang ke Pasar Beringharjo di kawasan Malioboro.

Pasar Beringharjo di Malioboro Yogyakarta (dok pri).
Beringharjo adalah etalase perekonomian yang bergerak karena batik. Pasar yang sudah ada sejak 1758 ini juga menyimpan sepenggal sejarah perkembangan batik di Yogyakarta. Baru berdiri di depan pintu masuknya, gairah untuk memiliki batik seketika muncul. Lantai satu Pasar Beringharjo memang tempat yang paling tepat untuk menemukan beragam produk batik seperti batik, pakaian, tas, sarung bantal, hingga barang keperluan rumah tangga yang mengaplikasikan batik seperti tempat tisu dan sandal. Di Beringharjo sentuhan motif batik juga ditemukan pada  benda-benda kerajinan lainnya seperti gelang dan topeng kayu.

Setiap hari saat kegiatan jual beli berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 15.30, Beringharjo tak pernah mengenal istirahat. Melihat orang-orang berjejalan dengan tatapan mata yang berbinar memandang setiap batik yang terpajang, tak diperlukan lagi dijelaskan mengapa batik sangat dicintai. Beringharjo  adalah saksi bahwa batik tak pernah gagal memikat hati setiap orang. Sekali melangkah menyusuri lapak dan los para penjual batik di sana, terasa betapa kuatnya energi batik di Yogyakarta.
Jual beli batik di lantai 1 Pasar Beringharjo (dok. pri).
Selain kain dan pakaian batik, di Pasar Beringharjo juga ada aneka macam produk yang mengaplikasikan batik dan motif batik (dok pri).
Meninggalkan Pasar Beringharjo,  kurang dari 100 meter jauhnya ada Monumen Batik. Lokasinya berada di sudut persimpangan Nol Kilometer bersisian dengan trotoar di depan Gedung Agung. Monumen yang diresmikan pada Desember 2009 ini berupa tugu dan enam tiang lampu berukuran besar. Tugu monumennya berbentuk lebar dengan warna merah dan hijau. Enam tiang lampunya memiliki dasar berbentuk segilima sebagai penopang. Pada lima sisi dari setiap tiang lampu terpasang lukisan yang menggambarkan aneka motif batik Yogyakarta sehingga totalnya ada tiga puluh motif batik yang bisa disimak di Monumen batik. Sementara di lantainya terdapat plakat yang memuat penjelasan singkat tentang motif batik yang ditampilkan.
Tugu yang menjadi bagian dari Monumen Batik di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta (dok pri).
Monumen Batik menampilkan puluhan motif batik khas Yogyakarta (dok pri).
Beberapa motif batik yang bisa dilihat di Monumen Batik Yogyakarta (dok. pri).
Monumen Batik adalah tempat yang menarik untuk mengenal batik melalui motif-motifnya yang penuh makna.  Seperti  motif Gembira Loka yang berisi aneka binatang dalam balutan pola kotak parang. Motif ini dibuat oleh KRAy. Hastungkara memperlihatkan jenis-jenis binatang yang menghadirkan kesan gembira.

Berikutnya ada motif Semen Huk.  Semen berasal dari kata semi yang artinya tumbuh. Sementara Huk adalah embrio burung garuda yang dicetuskan oleh Sultan Agung. Motif Semen Huk melambangkan kepemimpinan yang baik, arif, bijaksana, melindungi, takut dengan Tuhan dan dekat dengan rakyat. Dahulu Semen Huk termasuk motif larangan yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan para putra mahkota. Motif-motif lainnya di Monumen Batik  antara lain Truntum, Ciptoning, Peksi Manyura, Parang dan Sekarjagad.

Di Yogyakarta juga ada tempat yang menjadi pusat pengembangan batik dengan mengangkat penggunaan zat warna alam (ZWA). Di Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta milik Kementerian Perindustrian, masyarakat bisa melihat dan ikut mempraktikkan secara langsung pembuatan batik dengan menggunakan berbagai zat warna yang berasal dari bagian tumbuh-tumbuhan seperti daun Indigofera, kulit kayu Jati, Jelawe, Jambal, kulit buah Manggis, dan lain sebagainya. Pewarna alami yang umumnya termasuk kategori pigmen dan antioksidan diekstrak secara langsung dari jaringan dan sel-sel tumbuhan tersebut.
Workshop pembuatan batik dengan Zat Warna Alam yang diselenggarakan oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2015 yang lalu (dok. pri)
Penggunaan zat warna alam dalam proses pembuatan batik telah lama digunakan oleh perajin batik di Yogyakarta. Namun, karena keterbatasan pengetahuan dan teknologi di masa itu, pewarna alami ini pun perlahan digantikan dengan pewarna sintetis. Seiring waktu dan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang produk yang lebih ramah lingkungan, zat warna alam kembali mencuat.

Sifat-sifat alami dan reaksi dari berbagai senyawa dalam Zat Warna Alam mampu menghasilkan warna-warna unik pada selembar batik. Bahkan, jika menggunakan lebih dari satu Zat Warna Alam dengan rotasi pewarnaan tertentu, keajaiban akan terjadi pada warna akhir batik yang dibuat. Misalnya, kain batik yang diwarnai pertama kali dengan Indigofera mula-mula akan berwarna kuning kehijauan. Setelah dicelupkan kembali dan dikeringkan akan tercipta warna biru terang yang sering dikenal dengan istilah “Biru Jawa”. Jika selanjutnya kain dicelupkan ke dalam pewarna Jalawe, maka akan dihasilkan gradasi warna hijau yang teduh. 
Mencelupkan batik ke dalam Zat Warna Alam (dok. pri).
Batik yang diwarnai dengan Zat Warna Alam di BBKB sedang dijemur setelah direbus (dok pri).
Batik yang berwana hijau dihasilkan melalui kombinasi pewarnaan Indigofera-Jalawe. Sementara batik yang berwarna biru tua diciptakan dari rotasi pewarnaan Indigofera-Jalawe-Indigofera (dok. pri).
Namun, jika menghendaki batik dengan warna biru tua, urutan pewarnaan dan rotasi pencelupan perlu diubah. Kain pertama kali harus diwarnai dengan Indigofera dan setelah kering kain dicelupkan  ke dalam larutan Jalawe. Terakhir kain kembali diwarnai dengan larutan Indigofera.

Penggunaan Zat Warna Alam dalam pembuatan batik menunjukkan bahwa alam negeri ini memberikan segalanya penciptaan batik Indonesia. Saat ini ada lebih dari 150 jenis tumbuhan yang berguna sebagai pewarna alami dengan warna yang dihasilkan merah, biru, kuning,  coklat, jingga, hingga nila. Pembuatan batik dengan Zat Warna Alam juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kekhasan batik Indonesia yang menyimpan nilai kearifan menghargai lingkungan. 
Kulit Jalawe dan Jambal yang digunakan sebagai sumber Zat Warna Alam dalam pembuatan batik di BBKB Yogyakarta (dok. pri).
Ribuan warga Yogyakarta membatik secara serempak di atas kain sepanjang 3005 meter dan memecahkan rekor MURI (dok. pri).
Energi dan kekuatan cinta Yogyakarta dalam merawat eksistensi batik juga diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang tak biasa. Salah satunya adalah membatik secara “keroyokan” pada selembar kain sepanjang 3005 meter tanpa putus. Kegiatan ini berlangsung dalam peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2014 di  Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Saat itu sebanyak 3000 pembatik yang meliputi para perajin batik, masyarakat umum, mahasiswa dan pelajar serentak membatik dengan motif flora dan fauna. Motif tersebut dirancang oleh para pakar batik dari Yogyakarta.

Di bawah terik matahari ribuan orang tersebut antusias menciptakan selembar batik yang pada akhirnya memecahkan rekor MURI kategori dunia untuk batik terpanjang yang dibuat secara massal dan serempak. Batik sepanjang 3005 meter tersebut  diwarnai menggunakan pewarna alami dan selanjutnya akan dibuat Kimono untuk mengangkat citra batik Indonesia sebagai produk universal yang bisa diterima juga oleh bangsa lain. 
 
Jogja International Batik Biennale 2016 di Yogyakarta (www. jogjabatikbiennale.com).

Tak hanya itu saja, kini di tahun 2016 Yogyakarta juga mengadakan sebuah kegiatan penting bertaraf internasional yaitu Jogja International Batik Biennale (JIBB).  Mengangkat tema "Tradition for Inovation", JIBB 2016 bukan sekadar peringatan hari batik nasional atau penegasan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Akan tetapi, juga menjadi perhelatan untuk memanggungkan batik ke pentas dunia. 

Selama 12-16 Oktober 2016 para peserta dari berbagai negara akan membahas batik dalam rangkain acara berupa seminar, simposium, kuliah umum dan workshop. Tak ketinggalan ada pameran dan pertunjukkan fashion batik. JIBB 2016 juga berusaha memperkuat jaringan untuk meningkatkan pamor batik di kancah internasional. Selain itu pertemuan para tokoh dan pecinta batik dalam kegiatan ini diharapkan mampu menelurkan gagasan dan inovasi untuk mengembangkan batik sebagai salah satu penopang ekonomi Indonesia. Dalam lingkup yang lebih luas, JIBB 2016 mengusung  tujuan untuk mendorong batik yang merupakan warisan budaya dari Indonesia agar bisa dicintai juga oleh dunia. 
Teruslah mencintai batik seperti halnya kita setiap saat menghirup nafas (dok. pri).
Semua tempat dan kegiatan yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari upaya tak kenal lelah Yogyakarta dalam merawat warisan budaya bernama batik. Bukan megahnya tempat atau besarnya kegiatan yang menjadi ukurannya. Namun, esensinya adalah terus menerus menggelorakan batik agar menjadi bagian dari budaya berkelanjutan yang senantiasa dirawat dan dilestarikan secara bersama-sama. Dengan demikian jelas sudah bahwa Yogyakarta memang kota batik dunia yang jantungnya tak pernah berhenti berdetak dan terus berulang mencintai karya adiluhung bangsa.



Teks dan foto: Hendra Wardhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA