Sabtu, 07 Januari 2017

Mencicipi "Lumpur Kentang" di Pasar Oro-oro Dowo Malang


Lumpur Kentang Wolak-Walik dari Pasar Oro-oro Dowo (dok. Hendra Wardhana).

Sabtu (17/12/2016) pagi itu udara Kota Malang terasa sejuk. Meski masih sedikit basah dan dingin karena gerimis yang mengguyur malam sebelumnya, tapi kaki saya terus melangkah. Setelah sarapan di daerah Klojen, saya beranjak menuju daerah Oro-oro Dowo. Tujuannya adalah melihat Pasar Oro-oro Dowo yang belum lama diresmikan.

Tak ada rencana khusus di pasar tersebut selain melihat-lihat wujud dan suasana pasar. Rencananya saya pun hanya sebentar di sana. Namun, apa boleh buat saya justru bertahan agak lama di dalamnya. Sebuah tempat berjualan yang tepat menghadap pintu masuk pasar menarik perhatian saya. Meski tempatnya kecil namun beberapa orang silih berganti berdatangan. Sebentar mereka duduk lalu pergi sambil membawa kotak bungkusan.

Wangi yang tercium dari tempat itu akhirnya menarik saya untuk bertandang. Setelah melihat sebuah spanduk kecil di dindingnya saya semakin penasaran. “Lumpur Kentang Wolak-Walik”. Apa gerangan jajanan ini?.
Pasar Oro-oro Dowo di Kota Malang (dok. Hendra Wardhana).
Ternyata “Lumpur Kentang Wolak-Walik” adalah kue lumpur. Pembuat sekaligus penjualnya adalah seorang ibu muda bernama Vera. Ia lalu menceritakan sedikit kisah kue lumpur buatannya itu.

Sepintas Lumpur Kentang tak berbeda dengan kue lumpur lainnya. Namun, ibu dua anak itu menjelaskan kalau kue lumpur buatannya menggunakan lebih banyak kentang sebagai bahan utama adonannya yang juga terdiri dari tepung terigu, gula, telur dan mentega. Adonan tersebut lalu diaduk hingga benar-benar halus.
Gerai Lumpur Kentang Wolak-Walik di Pasar Oro-Oro Dowo (dok. Hendra Wardhana).

Lumpur Kentang baru dibuat setiap ada pembeli memesan (dok. Hendra Wardhana).

Lumpur Kentang dicetak di loyang dengan aneka toping (dok. Hendra Wardhana).

Lumpur Kentang Wolak-Walik baru dibuat saat ada pembeli yang memesan sehingga selalu hangat. Tidak butuh waktu lama untuk mematangkan adonan hingga Lumpur Kentang siap dinikmati. Mula-mula adonan dituang dan dicetak di dalam loyang. Toping berupa kismis, keju atau kelapa bisa ditambahkan sesuai keinginan pembeli. Setelah kurang lebih 3 menit, lumpur kentang diangkat dari loyang. Tapi pembuatannya belum selesai. Lumpur Kentang kemudian dipindahkan di wajan datar untuk mematangkan sisi sebaliknya. Karena proses pematangan dua kali untuk kedua sisinya secara bolak-balik inilah nama “Wolak Walik” ditambahkan.

Lumpur Kentang Wolak-Walik yang sudah jadi  terlihat eksotis dan begitu mengundang selera. Warna kuning terang dengan jejak gosong di kedua sisinya serta aroma wangi adalah perpaduan yang memikat mata sekaligus indera penciuman. Ukurannya lebih tebal dibanding kue lumpur lain pada umumnya. 

Sayapun mencicipinya selagi masih hangat. Sisi luarnya yang kering menjadi tester yang pas sebelum lidah menyentuh bagian dalamnya yang masih agak lumer khas kue lumpur. Teksturnya lembut dan memuaskan penggemar manis. Tapi tak cepat membuat bosan karena menurut saya masih dalam takaran yang pas. Dinikmati saat masih hangat membuat rasanya lebih menggigit di lidah.
Lumpur Kentang Wolak-Walik yang sudah sudah siap dinikmati (dok. Hendra Wardhana).

Harga Rp4000 untuk satu buah Lumpur Kentang Wolak-Walik sesuai dengan kenikmatannya. Pantas saja jika beberapa pembeli yang jajan pagi itu memesannya dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang. 
Lumpur Kentang dengan toping kismis (dok. Hendra Wardhana).

Selain Lumpur Kentang, Mbak Vera juga menjual Tahu Bakso dan Lemper yang semuanya dibuatnya sendiri. Ia mengaku memang hobi memasak dan membuat jajanan terutama kue. Lumpur Kentang adalah resepnya yang paling sukses. Sejak 2012 ia pun  mulai menerima pesanan di rumahnya. Ia juga berjualan saat car free day di Jalan Ijen Malang setiap hari Minggu. Kemudian mulai Agustus 2016, dengan dibantu oleh adik dan tantenya, ia memutuskan membuka gerai sederhana di Pasar Oro-oro Dowo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA