Rabu, 22 Februari 2017

Menyapa Andalusia, Sepenggal Eropa yang Pernah Bermandikan Cahaya Islam


Andalusia, jangan mencarinya di peta dunia saat ini. Bukan karena Andalusia adalah dongeng. Andalusia justru salah satu jejak peradaban tinggi yang pernah ada dalam lini masa kehidupan manusia. Andalusia merupakan bagian dari Daulah Umayah, satu dari tiga daulah besar dalam sejarah Islam. Selama kurang lebih 800 tahun (711-1492) peradaban Andalusia telah menerangi hidup dan kehidupan manusia di muka bumi. 

Akan tetapi, nama tersebut memang tak tertoreh lagi di peta dunia. Andalusia telah mewariskan kebesarannya kepada sebagian bangsa Eropa. Wilayah yang dulu berada dalam kekuasaan dan pengaruhnya kini menjelma sebagai negara-negara besar, yakni Spanyol, Portugal, dan sebagian Perancis.
Buku "Journey to Andalusia" yang ditulis oleh Marfuah Panji Astuti (dok. Hendra Wardhana).
Sejarah dan kebesaran Andalusia sungguh mencengangkan. Tatkala sebagian besar bangsa Eropa masih berada dalam masa kegelapan, Andalusia telah menjemput kejayaan. Pada masanya Andalusia menerangi kehidupan masyarakatnya dengan ilmu pengetahuan yang dikuasai para ilmuwannya. Arsitek, ahli ilmu kedokteran, ahli ilmu astronomi, ahli farmasi, hingga ahli pembuat peta yang karya-karyanya mendahului penemuan ilmuwan barat, telah lahir pada era Andalusia.  Bahkan, cara membuat roti gandum, mengolah makanan manis, dan membagi kategori hidangan yang saat ini identik dengan kebiasaan orang Eropa juga merupakan warisan  Andalusia. Melalui para ulama dan pemimpinnya yang adil, Andalusia membimbing masyarakatnya menjemput kemakmuran.

Namun, takdir Allah menghendaki Andalusia dan peradabannya digantikan dengan penguasa lain yang justru memadamkan lentera Islam yang selama berabad-abad menerangi wilayah tersebut. Secara perlahan Andalusia terkubur dalam peti yang gelap. Sejarah kebesarannya pun ditutup rapat sehingga generasi saat ini asing dengan fakta yang sesungguhnya.
Sampul belakang buku "Journey to Andalusia" (dok. Hendra Wardhana).
"Journey to Andalusia" berusaha mengabadikan kisah dan jejak kebesaran Andalusia agar tak terus dilupakan (dok. Hendra Wardhana).
Terbitnya buku “Journey to Andalusia” merupakan bentuk usaha agar sejarah Andalusia beserta cahaya Islam yang pernah dibawanya menerangi Eropa tak lenyap begitu saja.Buku ini menyuguhkan pengetahuan yang mungkin jarang diungkap dan diceritakan dalam pembahasan mengenai jejak Islam di Eropa. 

Penulisnya, Marfuah Panji Astuti adalah seorang jurnalis sekaligus blogger yang melakukan napak tilas ke tempat-tempat di mana jejak Andalusia berada, khususnya di Spanyol. Meski perjalanan tersebut dilakukannya bersama rombongan tur wisata yang didampingi guide, tapi buku ini bukanlah panduan traveling. Marfuah Panji Astuti menyajikannya sebagai cerita perjalanan dengan nuansa catatan harian.

Mulai dari Maroko
Kisahnya dimulai dari Maroko. Di wilayah Afrika Utara ini kegemilangan Andalusia bermula. Pahlawan Islam Musa bin Nushair dan panglima perangnya yang tangguh Thariq ibn Ziyad berasal dari tempat ini. Keduanya adalah sosok yang sangat berjasa dalam mengawali pembebasan Andalusia dari kegelapan dan mengantarkannya menuju gerbang peradaban Islam yang terang. 
Andalusia adalah peradaban besar di mana Islam menjadi sumber cahaya penerangnya (dok. Hendra Wardhana).
Andalusia telah mewariskan banyak pengetahuan dan kemajuan bagi kehidupan manusia. Sayang peradaban itu kemudian meredup dan seakan diingkari (dok. Hendra Wardhana).
Kota-kota bersejarah di Maroko seperti Casablanca, Rabat, Fes, dan Tanger juga menyimpan jejak kebesaran Islam yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Salah satunya adalah Masjid Hasan II di Casablanca yang merupakan masjid terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram. Ada juga Istana Raja di Kota Rabat yang masih berdiri kokoh dengan warisan arsitektur Islam berupa lubang penangkap udara yang dipercaya menginspirasi lahirnya teknologi modern air conditioner (AC). Sementara itu, di Kota Fes terdapat Universitas Al-Qarawiyyin yang merupakan universitas tertua di dunia yang masih berdiri hingga kini. Biaya pembangunan universitas ini berasal dari sumbangan wanita bernama Fatimah Al Fikhri. Mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas Al-Qarawiyyin dibebaskan dari biaya pendidikan. Konsep pendidikan modern dengan gelar kesarjanaan telah dirintis di tempat ini sejak tahun 859. Sepanjang sejarahnya Universitas Al-Qarawiyyin telah melahirkan banyak tokoh dan ilmuwan besar, antara lain Ibn Khaldun, Al-Idrisi, dan pemikir Yahudi Maimonides.

Memasuki Kota Tanger sebelum menyeberang ke Andalusia bukti kuasa Allah seperti yang tertuang dalam Al-Quran Surat Ar-Rahman: 19, terpampang nyata. Melalui mercusuar di atas bukit terlihat pertemuan arus Samudera Atlantik dan Laut Mediterania yang tidak bercampur sehingga batas keduanya terlihat jelas. Tanger juga merupakan kota asal pengelana tersohor Ibnu Bathuthah. Dari tempat ini ia berlayar dan berkeliling dunia selama kurang lebih 27 tahun dan singgah di 44 negara, termasuk Samudera Pasai (Aceh) di Indonesia. Jarak yang dilaluinya sekitar 120.000 km sesungguhnya melebihi perjalanan yang dilakukan oleh pelaut Columbus.

Kebesaran yang Dikaburkan
Di Spanyol bukti, jejak, dan peninggalan peradaban Andalusia dapat dijumpai di beberapa kota, yakni Malaga, Granada, Toledo, dan Cordoba. Salah satu yang terbesar adalah Istana Alhambra di Granada. Alhambra berasal dari nama Sultan Muhammad bin Nasri Al-Ahmar. Istana ini kental dengan nuansa Islam berupa pahatan kaligrafi  yang rumit memenuhi dinding, hingga kolam dan air mancur tempat berwudhu. Ada juga saluran air dan dam yang hingga kini masih berfungsi. Alhambra dikelilingi taman yang elok seolah mewakili keindahan taman surga. Kemegahan arsitektur hingga ornamen-ornamen di Istana Alhambra mencerminkan pesatnya kemajuan peradaban Islam Andalusia. 

Granada juga menyimpan luka tatkala pasukan Isabella dan Ferdinand mengambil alih Andalusia. Demi melenyapkan pengaruh Islam, keduanya menghancurkan semua hal yang berbau Islam. Para penduduk dipaksa berpindah keyakinan atau dibunuh dan diusir.
"Journey to Andalusia" (dok. Hendra Wardhana).
Memasuki Cordoba jejak kebesaran Andalusia berikutnya berupa masjid megah bernama Mezquita yang mulai dibangun pada tahun 786 oleh Abdurrahman Ad-Dakhil. Pada zamannya Mezquita adalah masjid tercanggih sekaligus terindah. Ornamen-ornamen yang menghiasnya memiliki nilai seni sangat tinggi serupa buatan komputer pada masa kini. Ribuan pilar menyangga masjid ini dan belasan ribu lentera menerangi ruangannya. Ada lapisan emas dan kristal yang menghiasi tempat imam (mihrab) memimpin sholat dan menyampaikan ceramah.

Namun, wajah Mezquita kini pucat. Rangkaian kaligrafi ayat-ayat Al-Quran telah terlepas dari dinding. Mihrabnya dikelilingi oleh teralis besi dan siapapun tak bisa sholat di dalamnya. Di menaranya yang dulu menjadi corong kumandang adzan kini terpasang lonceng. Masjid agung ini telah berubah fungsi menjadi katedral.

Sejatinya Cordoba adalah pusat perkembangan ilmu pengetahuan yang melesatkan peradaban Andalusia. Banyak orang cerdas dan terdidik yang tinggal di Cordoba pada masa itu. Jika literatur kedokteran barat mengenal nama Abucalcis, sesungguhnya ia adalah ilmuwan Andalusia yang bernama asli Abul Qasim Khalaf ibn al Abbas az-Zahrawi. Ribuan tahun lalu ia telah mampu melakukan operasi dan menghentikan pendarahan di tengkorak manusia. Cordoba juga mengabadikan nama Al-Idrisi sang pembuat peta dunia yang akurat. Karyanya disalin ke dalam peta-peta berikutnya dan menjadi panduan dalam penjelajahan Columbus. 

Jika dunia ilmu pengetahuan abad ini menempatkan Enstein sebagai manusia paling jenius, maka sesungguhnya Andalusia lebih dulu melahirkan cendekiawan yang kecerdasannya melampaui Enstein. Ia adalah Ibn Rusyd, tokoh renaissance yang berjasa membebaskan Eropa dari kegelapan pemikiran.
"Journey to Andalusia" (dok. Hendra Wardhana).
Sayangnya jasa peradaban Islam Andalusia seolah diingkari dan dikaburkan. Bukti-bukti kebesaran Andalusia berusaha ditutupi. Selain banyak jejak peninggalan bangunan yang dihancurkan atau berubah fungsi, kisah Andalusia juga dibelokkan. Beberapa cerita yang disampaikan oleh guide di Spanyol bertolak belakang dengan fakta dan kondisi sebenarnya. Seperti cerita mengenai kiblat masjid Cordoba yang sengaja dibuat tidak menghadap Ka’bah karena unsur dendam dengan Bani Abbasiyah. Padahal, meski bangunan masjid tersebut tidak lurus, namun kiblat di dalamnya tetap menghadap Ka’bah.

Disyukuri
Buku ini memang tidak terlalu tebal. Namun, 190 halamannya sarat referensi yang mampu memperkenalkan Andalusia. Secara ringkas dan mengalir, penulis menguraikan setiap peninggalan peradaban Islam Andalusia yang dijumpainya. Pengetahuan penulis tentang Andalusia yang diperoleh sebelum melakukan perjalanan juga membuat buku ini menjadi media pembanding dan klarifikasi yang baik.
Membaca "Journey to Andalusia" seperti mendengar penuturan tentang peradaban Islam yang mencengangkan (dok. Hendra Wardhana).
Hal yang juga mengasyikkan adalah cerita tentang beberapa destinasi menarik seperti mengunjungi Stadion Santiago Bernabeu, mencicipi kuliner ayam Tajine dan melihat tempat pembuatan roti khubs. Informasi sisipan seperti kapan dan di mana menukar mata uang lokal hingga cara menumpang kapal feri juga dituturkan. Semua diceritakan dengan baik tanpa mengurangi fokus terhadap Andalusia.

Sayangnya buku ini masih menyisakan sedikit kesalahan penulisan dan akurasi. Misalnya kata “undangan” pada halaman 33 yang seharusnya “undakan”. Kemudian pada halaman 65 yang memuat informasi cagar alam seluas 6,7 km. Nilai tersebut terlalu kecil untuk ukuran cagar alam dan satuan “km” bukanlah satuan luas.

Cerita tentang Andalusia yang jarang diangkat memang membuat buku ini terasa ekslusif. Namun, harganya juga menjadi sedikit mahal sehingga lingkar pembaca yang dapat dijangkau mungkin sedikit berkurang.
Journey to Andalusia (dok. Hendra Wardhana).

Meskipun demikian, pada akhirnya kehadiran buku ini pantas disyukuri karena telah menceritakan kembali sejarah dan fakta mengenai peradaban Andalusia beserta karya-karyanya yang luar biasa. Tanpa jasa Andalusia kemajuan Eropa yang kini menjadi kiblat kehidupan modern mungkin tak akan diraih. Dengan membaca buku ini generasi muda, khususnya kaum muslim, akan kembali bersyukur bahwa Islam benar-benar menjanjikan cahaya bagi mereka yang menghendakinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA