Selasa, 28 Maret 2017

Menjembatani Potensi Bonus Demografi dengan Harapan Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi

Presiden Joko Widodo baru saja menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sebesar 5,4-6,1%. Seperti disebutkan dalam databoks, target ini merupakan wujud Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) yang disusun dengan optimisme, realistis, dan kredibel.
Indonesia sedang memasuki era bonus demografi yang ditandai melimpahnya penduduk usia produktif (dok. Hendra Wardhana).

Harapan ekonomi nasional tumbuh di atas 5% hingga menyentuh angka 6% barangkali memang tidak berlebihan jika melihat performa ekonomi Indonesia dalam satu dekade terakhir yang cukup baik. Statistik Indonesia terkait pertumbuhan ekonomi sepanjang periode 2006-2015 menurut databoks mencapai angka rata-rata 5,8% yang hanya kalah dari Tiongkok dan India. 

Sementara itu menurut prediksi Lembaga audit dan konsultan ekonomi Pricewaterhouse Coopers (PWC) yang dirangkum oleh databoks, ekonomi Indonesia akan terus tumbuh dan melesat menduduki peringkat 5 dunia melampaui Rusia dan Jerman pada 2030. Lembaga ini juga memperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia pada 2050.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara pada 2017-2019 menurut Bank Dunia (sumber: databoks.co.id).
Indonesia diprediksi oleh lembaga Pricewaterhouse Cooper akan menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia pada 2050 (sumber: databoks.co.id).

Jendela Peluang
Tren positif di atas tentu memunculkan rasa optimis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan semakin baik. Selain karena investasi dan pembangunan infrastruktur sedang gencar dilakukan saat ini. Kebijakan-kebijakan ekonomi dan keuangan juga dianggap cukup mendukung. Kekayaan alam dan sumber bahan baku industri pun melimpah. 

Selain itu semua, ada satu modal besar yang sedang dijelang dan menjanjikan berkah bagi pertumbuhan ekonomi, yaitu komposisi demografi. Dalam beberapa tahun terakhir hingga ke depan Indonesia memasuki era bonus demografi yang ditandai dengan bertambahnya jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun).

Hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 menunjukkan penduduk usia produktif di Indonesia mencapai 66% dari total jumlah penduduk. Sementara jumlah penduduk lansia (di atas 64 tahun) mengalami penurunan dan pertumbuhan penduduk usia di bawah 15 tahun dapat ditekan. Pada saat yang sama pekerja usia muda (15-24 tahun) mencapai 26,8% atau 64 juta jiwa. Komposisi demografi ini akan mencapai puncaknya pada 2025-2030. Pada saat itu jumlah penduduk usia produktif di Indonesia diperkirakan mencapai 70% atau terbanyak sepanjang sejarah. Indikasinya pun sudah mulai terlihat saat ini. Menurut databoks, usia produktif sudah mendominasi penduduk Indonesia pada 2016 yang berjumlah 258 juta jiwa. 

Potensi bonus demografi tersebut membuka jendela peluang yang besar bagi perekonomian nasional karena penduduk usia produktif merupakan modal sekaligus mesin utama untuk menggerakkan ekonomi. Melimpahnya usia produktif yang diikuti bertambahnya angkatan kerja akan menguntungkan, baik dalam kegiatan produksi maupun konsumsi yang selama ini merupakan penopang pertumbuhan ekonomi nasional. 


Piramida penduduk Indonesia pada 2016 menunjukkan populasi penduduk usia produktif (15-64 tahun) mendominasi sebagai tanda negara ini telah memasuki era bonus demografi (sumber: databoks.co.id). 


Dari segi produksi, hal itu dapat memacu kegiatan industri yang bersifat padat karya maupun padat modal. Menurut databoks hingga kuartal III 2016 ada 1228 industri sedang dan besar yang tumbuh di Indonesia. Industri tersebut tentu membutuhkan banyak tenaga kerja usia produktif. Pada saat yang sama investasi baru juga bisa meningkat karena tersedia cukup tenaga kerja.

Sementara dari segi konsumsi, banyaknya penduduk usia produktif yang bekerja akan meningkatkan pendapatan per kapita. Databoks menyebutkan pada 2016 pendapatan perkapita Indonesia mencapai Rp47,96 juta per tahun atau naik 6,25% dari tahun sebelumnya. Seiring pendapatan yang bertambah, daya beli pun meningkat sehingga belanja atau permintaan barang masyarakat akan naik. Peningkatan konsumsi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Apalagi, kontribusi konsumsi rumah tangga Indonesia selama ini sudah mencapai 65% dari produk domestik bruto (PDB).
PDB perkapita Indonesia terus naik dari 2010 hingga menyentuh Rp47,96 juta per tahun pada 2016. Kenaikan PDB perkapita adalah salah satu indikator pertumbuhan ekonomi (sumber: databoks.co.id).
Meningkatnya daya beli mendorong bertambahnya konsumsi/belanja domestik yang turut menopang pertumbuhan ekonomi (dok. Hendra Wardhana).

Potensi bonus demografi juga menggerakkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor telekomunikasi dan itu sudah terbukti selama ini. Menurut databoks, sektor telekomunikasi di Indonesia tumbuh rata-rata di atas 10% dan menjadi penopang ekonomi yang penting. Oleh karena itu, besarnya populasi penduduk dan bertambahnya penduduk usia produktif pada era bonus demografi akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan dan konsumsi sektor komunikasi, seperti internet dan telepon seluler. Industri digital hingga e-commerce nasional pun akan semakin menggeliat.

Kemudian bonus demografi berpotensi melahirkan lebih banyak penduduk kelas menengah. Berkaca pada hasil survey BPS selama 2004-2011 Indonesia mampu melahirkan 1,6 juta kelas menengah baru dengan daya beli dan konsumsi yang tinggi. Maka dengan peluang bonus demografi yang masih ada saat ini hingga beberapa tahun mendatang, bertambahnya masyarakat kelas menengah diharapkan akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Kerja Keras
Walau demikian, potensi bonus demografi yang ada di depan mata tidak otomatis akan berbuah manis dan menjadi berkah tanpa upaya untuk mengoptimalkannya. Bertambahnya populasi penduduk dan jumlah usia produktif akan menggerakkan ekonomi secara maksimal dengan syarat Indonesia mampu mengelolanya dengan baik.

Masalahnya, beberapa indikator ekonomi dan sosial menunjukkan fondasi bonus demografi Indonesia saat ini belum kuat. Menurut databoks kapasitas manusia Indonesia cenderung masih rendah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia belum beranjak dari kategori sedang. Produktivitas manusia Indonesia belum sepadan dengan tingkat belanja dan konsumsinya yang tinggi. Padahal, kapasitas dan produktivitas sumber daya manusia adalah syarat penting untuk menggerakkan ekonomi.

Indikator lainnya berdasarkan data statistik pada databoks hingga Agustus 2016 tenaga kerja Indonesia masih didominasi lulusan SD (42,2%) dan hanya sedikit yang berpendidikan diploma serta sarjana. Sebanyak 56% pekerja Indonesia juga tidak cocok antara pendidikan dan bidang pekerjaan.

Pendidikan yang rendah membuat tenaga kerja cenderung dibayar murah sehingga kurang sejahtera. Daya beli mereka otomatis rendah. Jika kondisi ini dibiarkan, potensi bonus demografi akan melemah dan perekonomian Indonesia tidak akan tumbuh maksimal. Sebaliknya, angkatan kerja yang berpendidikan tinggi berpeluang mendapatkan gaji besar. Penghasilan mereka akan meningkatkan daya beli dan belanja domestik yang menggerakkan pertumbuhan ekonomi.
Investasi sumber daya manusia melalui pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan adalah cara terbaik mempersiapkan generasi berkualitas dari bonus demografi untuk memacu pertumbuhan ekonomi di masa depan (dok. Hendra Wardhana).

Pekerja Indonesia masih didominasi oleh lulusan SD sehingga kurang optimal sebagai penggerak ekonomi. Kapasitas ini harus ditingkatkan melalui investasi SDM terhadap potensi bonus demografi (sumber: databoks.co.id).


Oleh karena itu, Indonesia harus bekerja keras memperkuat investasi sumber daya manusia sejak dini, terutama melalui pemenuhan akses pendidikan dan kesehatan secara merata agar generasi yang lahir dari bonus demografi memiliki kualitas unggul. Bantuan sosial seperti Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat harus dioptimalkan. Kemudian strategi pendidikan perlu disesuaikan dengan prioritas dunia kerja. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas, produktivitas dan penguasaan teknologi yang merupakan kunci industri modern. Sumber daya manusia yang cerdas, sehat, dan produktif akan mampu memacu pertumbuhan ekonomi.

Selain merancang bonus demografi yang berkualitas, Indonesia juga perlu menyediakan lebih banyak peluang kerja untuk mengimbangi peningkatan angkatan kerja. Data statistik pada databoks yang menyebutkan pengangguran di Indonesia tertinggi ke-3 di Asia Tenggara dengan angka di atas 6% harus menjadi perhatian. Percuma jika ada banyak penduduk usia produktif dan angkatan kerja, tapi tidak terserap oleh dunia kerja. Hal itu justru akan mengubah bonus demografi menjadi beban demografi.

Potensi bonus demografi harus dioptimalkan melalui lapangan kerja yang beragam. Selain berharap pada industri manufaktur, infrastruktur, serta industri ekstraktif seperti migas dan pertambangan, pemerintah juga perlu memperkuat sektor UMKM dan industri kreatif. Berpijak pada data Bank Indonesia yang dirangkum databoks, sektor UMKM mendominasi 99,9% unit bisnis di Indonesia pada 2016 dan mampu menyerap hampir 97% tenaga kerja. Dari angka tersebut, serapan tenaga kerja pada usaha mikro paling banyak yaitu 87%. Sementera itu, industri kreatif diyakini sebagai masa depan ekonomi Indonesia. 



Berikutnya, peranan perempuan untuk bekerja lebih aktif perlu diakomodasi. Berkurangnya jumlah anak dan penduduk usia muda sebagai efek dari bonus demografi menjadi peluang yang besar bagi perempuan atau ibu rumah tangga untuk bekerja dan ikut meningkatkan pendapatan perkapita penduduk.

Bonus demografi perlu didayagunakan untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan mendorong tumbuhnya lebih banyak UMKM untuk menyerap tenaga kerja (sumber: databoks.co.id).
Industri kreatif perlu terus ditingkatkan untuk memaksimalkan potensi bonus demografi sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia (dok. Hendra Wardhana).

Permasalahan lain yang harus dikikis adalah kesenjangan ekonomi yang tinggi. Laporan tahunan "Global Wealth Report 2016" dari Credit Suisse yang dirangkum databoks menyebutkan ketidakmerataan ekonomi Indonesia mencapai 49,3%. Konsumsi perkapita Indonesia masih didominasi segelintir orang terkaya. Data stastistik lainnya pada databoks juga menunjukkan bahwa sektor industri masih didominasi Pulau Jawa.

Selain ketimpangan pendapatan, kesenjangan di Indonesia juga meliputi distribusi hasil pembangunan yang kurang merata antar wilayah sehingga kesempatan masyarakat untuk mengakses kebutuhan terkesan kurang adil. Kesenjangan ekonomi dan ketidakmerataan hasil pembangunan tersebut akan menyebabkan ketimpangan kualitas SDM.

Semua masalah yang telah disebutkan di atas, jika tidak diatasi akan memperlemah potensi bonus demografi. Peluang emas yang ada di depan mata pun terancam sia-sia jika tak ada upaya untuk menjembataninya dengan harapan pertumbuhan ekonomi yang diinginkan.

Oleh karena itu, agar bonus demografi menghasilkan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi, diperlukan kerja keras untuk membangun sumber daya manusia dengan berbagai cara. Program-program yang mendorong produktivitas dan kualitas manusia harus diprioritaskan. Dengan demikian, Indonesia akan mampu mendulang keuntungkan demografi secara maksimal dan menjadikannya sebagai mesin raksasa untuk menggerakkan ekonomi nasional.



3 komentar:

  1. Dengan bonus demografi yang dimiliki indonesia semoga dapat menjadi peluang untuk menuntaskan perekonomian indonesia...
    sangat informatif artikelnya mas. saya tunggu kunjungannya di blog saya => https://bengmoelyono.blogspot.co.id/2017/04/menjadi-gravitasi-saat-belajar-kelompok.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus

Cerita Populer

BERANDA