Kamis, 28 September 2017

Memperteguh Transformasi Kereta Api Indonesia

Usia kereta api Indonesia menyentuh angka yang ke-72 tahun pada 2017 ini. Usia tersebut hampir setara dengan usia republik. Dengan demikian, kereta api merupakan saksi sekaligus bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. 
Kereta api berhenti di Stasiun Prujakan Cirebon (foto: Hendra Wardhana).
Beriringan dengan pembangunan Indonesia, kereta api juga menjadi etalase kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa ini. Kereta api telah menjadi tulang punggung dalam bidang ekonomi dan transportasi di negeri ini. Wajah perkeretaapian Indonesia juga telah jauh berubah.

Saya terkenang suatu hari pada bulan Desember 2012 saat menumpang kereta api ekonomi Progo dari Stasiun Lempuyangan di Yogyakarta menuju Jakarta. Dalam perjalanan, di beberapa stasiun saat kereta berhenti masih dijumpai segelintir penjual makanan dan minuman yang masuk ke dalam kereta. Masih ada penumpang yang memilih tidur di bawah kursi atau di dekat pintu dengan beralaskan koran. Tapi kondisi tersebut sudah jauh lebih baik dibanding saat saya menumpang kereta api untuk pertama kalinya beberapa tahun sebelumnya. Setidaknya semua penumpang sudah memiliki tiket dengan nomor tempat duduk.

Potret kondisi di kereta api ekonomi yang diambil pada Desember 2012. Meski setiap penumpang sudah memiliki tiket, tapi masih ada yang memilih tidur di lantai. Penjual makanan dan minuman asongan masih bisa naik ke kerata dan penumpang merokok di kereta (foto: Hendra Wardhana).
Sepenggal wajah baru kereta api Indonesia setelah mengalami transformasi (foto: Hendra Wardhana).
Kemudian sejak 2013 sampai sekarang saya semakin senang bepergian menggunakan kereta api, baik kelas ekonomi, bisnis, maupun eksekutif. Sepanjang itu pula akselerasi kemajuan yang digulirkan oleh PT KAI selaku penyedia jasa angkutan kereta api di Indonesia bisa dirasakan.

Transformasi dengan Inovasi
Jika ditelaah, kemajuan perkeretapian Indonesia saat ini merupakan hasil transformasi yang digerakkan oleh inovasi. Dalam hal ini apa yang dirintis PT KAI sejak kepemimpinan Ignasius Jonan dan dilanjutkan oleh Edi Sukmoro sekarang, harus diapresiasi. Masyarakat, terutama yang telah lama menggunakan kereta api pasti bisa dengan mudah merinci perubahan positif kereta api, sekaligus dengan gembira mengakui bahwa kereta api Indonesia kini sangat bercirikan inovasi.

Inovasi yang paling besar dan membawa perubahan sangat signifikan adalah pemanfaatan teknologi informasi yang masif dalam berbagai layanan perkeretapian. Antara lain pemesanan tiket secara on line (internet reservation), layanan check in dan cetak boarding pass mandiri, dan aplikasi KAI Access. Kemudian e-KiosK, yaitu mesin penjualan tiket kereta api jarak jauh, serta layanan pre-order makanan dan minuman. PT KAI juga secara efektif memanfaatkan media sosial  untuk memperkuat komunikasi dan relasi dengan masyarakat, terutama generasi muda. 
Selain inovasi, kunci sukses transformasi kereta api Indonesia adalah penegakkan aturan yang lebih tegas (foto: Hendra Wardhana).
Pramugari kereta api Indonesia kini semakin profesional, berpenampilan menarik dan ramah (foto: Hendra Wardhana).
Selain inovasi, transformasi kereta api Indonesia juga didukung dengan penegakkan aturan yang tegas sehingga menghadirkan kenyamanan dan keamanan bersama. Kini, tak ada lagi penumpang yang berani merokok dan tidur di lantai kereta. Tidak ada lagi penjual makanan dan minuman dari luar yang dulu selalu berlalu lalang mengganggu kenyamanan di dalam kereta. Bersamaan dengan itu fasilitas dasar bagi penumpang di dalam kereta, seperti pendingin udara dan kebersihan toilet, semakin baik.

Wajah baru perkeretapian Indonesia juga dapat dilihat dari agresifnya PT KAI dalam melakukan penataan dan perbaikan stasiun yang kini bukan lagi menjadi tempat yang membosankan. Banyak stasiun telah memiliki ruang tunggu yang luas, bersih dan nyaman. Loket pembelian tiket dan pintu keberangkatan ditata ulang sehingga mempermudah akses penumpang. Banyaknya media informasi dan petunjuk di stasiun sangat bermanfaat bagi penumpang. 


Stasiun Lempuyangan Yogyakarta kini lebih rapi dan nyaman (foto: Hendra Wardhana).
Salah satu inovasi terbaru PT KAI adalah kursi ruang tunggu yang dilengkapi fasilitas baterai-charging seperti yang terdapat di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta (foto: Hendra Wardhana).

Inovasi lainnya bahkan melebihi ekspektasi. Misalnya, Stasiun Lempuyangan Yogyakarta kini memiliki fasilitas baterai-charging on seat, yaitu kursi-kursi di ruang tunggunya dilengkapi spot pengisian daya listrik sehingga calon penumpang semakin mudah untuk mengisi baterai handphone atau gadget miliknya. Kemudian di Stasiun Tugu Yogyakarta ada executive lounge layaknya di bandara. Kereta api ekonomi premium yang saya tumpangi saat mudik pada Juni 2017 juga cukup mengejutkan. Kereta tersebut memiliki interior yang elegan, kursi yang nyaman, dan fasilitas TV.

Perkuat Orientasi Pada Masyarakat
Harus diakui bahwa berbagai inovasi yang dihadirkan PT KAI telah mengubah pandangan masyarakat terhadap layanan kereta api. Kepercayaan  terhadap PT KAI meningkat sehingga kereta api kini menjadi transportasi kesayangan masyarakat. Salah satu indikatornya adalah terus bertambahnya pengguna kereta api. Pada 2016 saja, kereta api telah mengangkut 352 juta penumpang. 
Kereta api ekonomi Mataram Premium dengan interior yang nyaman dan elegan (foto: Hendra Wardhana).
Beberapa fasilitas kereta Mataram Premium yang diluncurkan pada musim mudik lebaran 2017 (foto: Hendra Wardhana).
Meskipun demikian, transformasi kereta api Indonesia tidak boleh berhenti di sini. Di masa mendatang PT KAI harus terus berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik sekaligus memperbaiki kekurangan yang masih ada.

Masukan, kritik, dan keluhan masyarakat perlu direspon oleh PT KAI karena itu merupakan modal untuk memperteguh transformasi yang sudah berjalan. Evaluasi yang berasal dari masyarakat atau penumpang sangat penting untuk mewujudkan transportasi yang lebih maju dan berkelanjutan.

Pertama, PT KAI perlu mengkaji ulang harga makanan dan minuman di kereta. Keluhan tentang mahalnya harga makanan dan minuman yang disediakan oleh PT Reska, anak perusahaan PT KAI, sudah sering terdengar. 

Mahalnya harga makanan dan minuman di kereta dan di gerai-gerai stasiun kurang sesuai dengan pengguna kereta api saat ini yang berasal dari berbagai kalangan ekonomi, mulai dari orang yang banyak uang hingga orang dengan keuangan terbatas. Satu gelas kecil minuman hangat yang dihargai mulai dari Rp7.000 dan paket nasi yang dijual mulai Rp30.000 dirasakan kurang berorientasi pada penumpang.

PT KAI tentu tidak boleh beralasan bahwa mahalnya harga makanan dan minuman merupakan konsekuensi dari perbaikan kualitas layanan. Justru menjadi tantangan bagi PT KAI untuk memberikan pelayanan terbaik sesuai harapan masyarakat dengan harga terjangkau, termasuk soal harga makanan dan minuman.

Kedua, seiring meningkatnya jumlah penumpang dan bertambahnya jadwal kereta api, dibutuhkan terobosan baru untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan bersama. Apalagi, selama ini “mengutamakan keselamatan” menjadi salah satu prinsip dan jargon pelayanan PT KAI. 

Sudah saatnya PT KAI memikirkan prosedur keamanan yang lebih ketat terhadap penumpang dan barang bawaannya. Pemasangan gate dengan pendeteksi logam dan barang berbahaya seperti di Terminal Bus Giwangan Yogyakarta bisa diterapkan di stasiun kereta api. Pada tahap awal PT KAI bisa melakukan uji coba di stasiun-stasiun besar seperti di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta pada jam-jam tertentu.
Kotak obatan-oabatan/P3K yang kosong (foto: Hendra Wardhana).
Ketiga, PT KAI perlu memiliki standar penunjang kesehatan yang lebih baik bagi penumpang selama perjalanan. Belum semua kereta dilengkapi dengan kotak obat-obatan. Beberapa yang terpasang bahkan seringkali dijumpai tanpa isi. PT KAI juga perlu meningkatkan kapasitas SDM, dengan membekali kru perjalanan dengan keterampilan memberikan pertolongan dasar kepada penumpang yang mengalami cedera atau sakit mendadak dalam perjalanan. 

Keempat, semakin meningkatnya penggunaan e-money atau uang elektronik oleh masyarakat, loket-loket penjualan tiket di stasiun, terutama untuk kereta api jarak jauh, perlu dilengkapi dengan alat pembaca kartu e-money. Selain membuat pembelian tiket  menjadi lebih efisien, penggunaan e-money juga bisa mengatasi celah belum optimalnya pemanfaatan e-KiosK. Dengan demikian sistem pembayaran tiket kereta api  semakin bervariasi dan inklusif. 

PT KAI bisa berinovasi bersama perbankan dengan mengintegrasikan kartu e-money sebagai kartu loyalitas penumpang kereta api. Skema yang menarik bisa ditawarkan dengan e-money KAI, misalnya setiap penggunaan kartu tersebut akan dikonversi menjadi poin yang dapat dikumpulkan untuk mendapatkan diskon tiket.

Kelima, transformasi kereta api telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan di negara ini. Oleh karena itu, di pundak PT KAI juga melekat peran untuk mewujudkan sistem transportasi yang berkelanjutan. Salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur kereta yang lebih ramah lingkungan.

Dengan memiliki jalur sendiri yang  dikembangkan menjadi double track, waktu perjalanan yang presisi, serta kapasitas angkut yang besar, kereta api saat ini sebenarnya sudah lebih ramah lingkungan karena efisien dalam penggunaan bahan bakar. Namun, dibutuhkan inovasi lain yang mampu menjawab tantangan zaman. Uji coba kereta api berbahan gas yang pernah dilakukan pada 2016 adalah langkah yang baik dan perlu  dioptimalkan. PT KAI juga bisa menggunakan lebih banyak panel tenaga surya di stasiun-stasiun.

Keenam, PT KAI bisa berinovasi dengan menyediakan pojok baca di stasiun. Sehingga penumpang akan mendapatkan manfaat dan pengalaman lebih dengan membaca buku, majalah, atau koran sambil menunggu keberangkatan. Dengan demikian akan terbangun citra baru stasiun sebagai tempat penunjang gaya hidup, dalam hal ini budaya membaca.
***
Menilik usianya, PT KAI  memiliki pengalaman yang panjang dalam mendorong kemajuan negeri, sekaligus terbukti memiliki daya tahan yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, kita berharap akan terus hadir inovasi-inovasi berikutnya dari PT KAI. 
Kereta Api Indonesia (foto: Hendra Wardhana).
Bertambahnya penumpang kereta api adalah bukti bahwa transformasi yang dihadirkan PT KAI berhasil meningkatkan kepercayaan masyarakat (foto: Hendra Wardhana).

Di masa yang akan datang kereta api bukan sekadar moda transportasi yang melayani penggunanya, tapi harus menjadi penggerak kemajuan transportasi Indonesia yang berkelanjutan dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Meski terdengar sebagai tuntutan yang besar dan tidak mudah, tapi kita boleh percaya bahwa dengan semangat dan kerja keras yang telah ditunjukkan selama ini, PT KAI mampu mewujudkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer

BERANDA